Jangan Campuri Urusan Tuhan

Jadi begini..

Ceritanya, dulu pernah ke Rinjani. Ada namanya bukit penyesalan. Bukit yang membuat menyesal siapapun yang sudah sampai kesana. Menyesal karena terlalu jauh untuk kembali ke bawah, tapi masih jauh juga untuk ke puncak. Dan, pemandangan di atas selalu terlihat seperti puncak, padahal belum. Dan ada 4 bukit penyesalan disana. Ingat, EMPAT !!!

rinjani-03

Bukit Penyesalan Rinjani

Sering terjadi percakapan seperti ini antara pendaki dari bawah (B) dan atas (A):

B : Mas, berapa jauh lagi ke puncak?

A : Udah dekat kok. Nah, itu pohon paling atas itu udah puncak dah (kira-kira kayak gambar di atas itu lah)

B : Oke makasih

A : Semangat semangat tinggal dikit itu kok….

Dan setelah berjalan, 4 jam pun belum sampe puncak !!!!

Semakin tinggi di bukit penyesalan, semakin menyesal. Mau turun, nanti menyesal kok ga diterusin aja. Mau naik, nanti nyesel masih jauh, mending turun terus istirahat.

Sama dengan hidup ini. Setelah kita melewati satu rintangan hidup, kita bakal melewati rintangan lain yang lebih berat. Setelah menghadapi serigala hutan, kita menghadapi singa hutan untuk. Begitulah hidup ini.

Teruntuk kalian yang bermimpi besar, namun batu-batu yang kalian hadapi semakin besar menghadang, yakinlah, kalian sedang dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi batu-batu kehidupan lain. Jangan menyerah, walau secara finansial atau fisik belum terlalu kelihatan hasilnya. Yakinlah, Tuhan sudah memeluk mimpi-mimpimu.

Satu lagi, berdoalah. Lalu, berusahalah. Menangislah kalau perlu. Tapi, jangan terlalu mencampuri urusan Tuhan. Kamu minta rumah tipe 36, kok ga dikasi-kasi ya. Siapa tahu, Tuhan sedang menyiapkan rumah tipe 100 (ada ga sih) untukmu, lewat jalan yang berbeda.

Siapa tahu kan?  Kamu hanya perlu doa dan usaha. Selebihnya, itu urusan Tuhan. Jangan dicampuri.

Sama dengan ujian di kampus. Kamu cuma perlu kuliah dan ujian. Selebihnya, urusan dosen…

Advertisements

IPK 3 Aja Ga Jamin Apa-Apa, Apalagi IPK 2

Jangan panas dulu liat judulnya yak wkkw.” Mohon bersabar, ini ujian, ujian dari Allah”..

Jaman modern dan serba cepat menuntut profesionalisme, yang ditunjukkan dengan kemampuan akademik yang menunjang. Kemampuan akademik dilihat dari strata pendidikan dan tentu nilai akademik. Lulusan SMA/SMK tentu akan mendapat kualifikasi berbeda ketika masuk kerja dibanding yang lulusan unviersitas. Itu sudah lumrah, lazim.

318809_271574552947955_1775032224_n

Di bahasan kali ini, kami coba fokus ke para alumni kampus-kampus di Indonesia. Kemampuan para alumni kampus di Indonesia selalu ditampakkan dalam IPK, alias Indeks Prestasi Kumulatif, atau bahasa Inggrisnya GPA. IPK alias GPA di atas 3,00 adalah sebuah mimpi seluruh mahasiswa ketika mereka masuk kampus, apalagi kampus-kampus favorit di negeri ini. Para maba biasanya nulis gini di dinding kosannya :

“IPK 3,50, LULUS JUGA 3,50 TAHUN”

“IPK CUMLAUDE HARGA MATI !!!”

“IPK 4,00 BUKAN IMPIAN KOSONG…”

“LULUS CEPET, KERJA DI PERUSAHAN GEDE, NIKAH MUDA” (luarr biasa kalo ini)

“KALO IPK GUA DI BAWAH 3,00, MENDING GUA D.O AJA !!” (kalo ini goblok sih..)

Tulisan ini kami mulai dengan para pemilik IPK 3,00-4,00. Hai kalian, selamat kalian sudah berhasil memenuhi mimpi kalian. Memliki IPK yang cukup untuk membuat kalian masuk di bursa persaingan kuliah lanjutan dan kerja. Kalian punya peluang besar menembus dunia lain (maksudnya negara lain) dengan modal IPK kalian yang mencukupi itu. Terlebih kalian yang cumlaude, peluang kalian dilirik kampus-kampus dan perusahaan-perusahaan keren di dunia ini jadi lebih besar. Tentu saja, IPK 3,99 akan lebih membuat para staf HRD terbelalak daripada IPK 3,01 kan?

Para dosen ketika di awal kuliah kita dulu juga berpesan, “Kalian kalau bisa IPK ketika lulus minimal 3,00. Kalian jadi punya peluang lebih besar kemana-mana. Mau kerja atau kuliah dimana pun, kalian akan jadi lebih mudah”. Kira-kira begitulah pesannya. Kok bisa para dosen berpesan kayak gitu? Yah mereka kan udah ngalamin dulu. Apalagi, konon kalau dosen itu alumni-alumni terbaik di angkatannya masing-masing.  Jadi, tau lah ya …

Dengan IPK 3-4, kita bisa lihat teman-teman kita kerja perusahaan-perusahaan besar, misal Schlumberger, Pertamina, Paragon, Pupuk Pusri, dan lain-lain. Gajinya bisa 4-10 juta/bulan. Wiih, siapa yang gak ngiler. Ada juga temen kita keterima di kampus-kampus keren di luar negeri, misal UoM (university of Manchester), Harvard Unversity, NUS Singapore, dan lain-lain. Pengen? Semua orang pun juga pengen.

Tapi, kita melihat begitu banyak juga, mungkin dari teman-teman kita sendiri, begitu wisuda, masih jadi pengangguran. Jadi penganggurannya bisa dari 1-12 bulan. Tergantung orangnya. Kalo lebih dari 12 bulan ada ga? Ada sih kayaknya, cuma kami belum pernah ketemu sih. Dengan IPK yang mencukupi, ternyata masih banyak pengangguran intelektual di negeri ini. Anak-anak terbaik negeri ini harus rela menunggu kesempatan kerja atau kuliah lagi itu dengan rentang waktu yang cukup menyita perhatian, uang, sampai emosi.

Intinya, IPK mencukupi pun tidak menjamin apa-apa. Walau akhirnya nanti kerja atau kuliah lagi, tetap itu kembali ke masing-masing orangnya. Kalau kita orangnya bete an, pasti di tempat kerja bakal dijauhin sama teman-teman kerja, bahkan bos-bos kita, yang mungkin membuat kita ga nyaman juga. Kalau kita marahan, jangan kaget kalau bikin orang di kantor pusing gak karuan. Kesuksesan akan kembali ke diri masing-masing. Jadi, masih pengen punya IPK 3-4 ? Ya kalau bisa sih hahah…

Kalau yang punya IPK 3-4 aja ga menjamin apa-apa ke depannya, pun dengan IPK di bawah 3,00. Mulai dari IPK 2,00 – 2,99 (kalo IPK satu koma biasanya di D.O sih). Kebanyakan yang IPK nya di rentang itu berpikiran untuk jadi pengusaha. Mereka kebanyakan berpikir, “Bill Gates gak lulus kuliah juga jadi orang terkaya nomor 1 dunia”. Eitts, yang gini-gini juga keliru.

Bill Gates emang DO dari kampusnya. Masalahnya, dia DO nya dari Harvard University. Inget, Harvard. Kalau kita mah, tanpa bermaksud merendahkan kampus-kampus di Indonesia, mungkin harus kerja lebih keras untuk bisa seperti Bill Gates. Masalahnya lagi, Bill Gates konon DO karena udah bisa programming sendiri, jadi itungannya materi kuliahnya boring buat dia. Kalo kita, materi kuliahnya mungkin boring gegara kita males baca. Bener? Ngaku aja heheh..

Intinya, Bill Gates D.O bukan dengan otak dan tangan kosong. Begitu kawan ..

Memang, dengan IPK di bawah 3,00 , kesempatanmu untuk bisa kerja dan kuliah lanjut ga sebesar yang IPK 3,00 ke atas. Mungkin, dari situlah akhirnya otak kita berpikir lebih keras dan kreatif gimana cara dapet penghasilan misal nanti ga ketrima kerja atau kuliah lagi. Biasanya sih bisnis ujung-ujungnya. Bayang-bayang kesuksesan Bill Gates pun seakan terpampang di depan. Eitss, tunggu dulu..

Bisnis itu justru membutuhkan mental yang kuat. Jangan dikira buka bisnis sekali langsung sukses bisa beli rumah. Pasti akan ada masalah dan kerugian. Di sini lah dibutuhkan mental yang kuat, mental ga gampang nyerah. Dengan kondisi IPK mu seperti itu, mungkin inilah satu-satunya jalan menuju kesuksesanmu. Jangan gampang menyerah. Yang repot adalah, udah IPK pas-pasan, usaha dan mental juga pas-pasan. Kelar dah …

Jadi, kalau IPK mu pas-pasan, pakai otak dan tanganmu semaksimal mungkin. Jangan males..

Rezeki itu berbanding lurus dengan usaha. Mungkin, teman-teman kita dulu lebih rajin, sehingga IPK nya cukup untuk langsung kerja atau kuliah lagi. Mungkin, kita dulu males, jadi IPK nya pas-pasan. Gak ada kata terlambat. Berusahalah dari sekarang. Jangan males lagi biar rezekinya banyak.

PENGANGGURAN ITU SEMENTARA, TAPI REZEKI SELALU ADA…

KAMU BISA MULAI HIDUPMU DARI NOL, TAPI TIDAK DENGAN TANGAN KOSONG..

Berapapun IPK mu, jadikan ia nanti sebagai bahan candaan dengan temanmu ketika reunian. Jadikan ia cerita di balik kesuksesanmu nanti. Ga ada yang lebih baik berapapun IPK mu, bahkan kamu lulus atau nggak, semua sama aja. Tapi, kalo bisa ya lulus lah, buat nyenengin orang tua di rumah, hehe..

Jadi, mau IPK berapa pas lulus? Seikhlasnya aja …

 

UGM Kampus Paling Kotor di Indonesia

logo-ugm

UGM alias Universitas Gadjah Mada. Terkenal sebagai salah satu universitas favorit di Indonesia. Puluhan ribu anak bangsa berebut tiap tahunnya untuk masuk ke sini. Jurusan-jurusan favorit macam Pendidikan Dokter, Teknik Nuklir, Kehutanan, dan lain-lain, ramai dilamar oleh ribuan orang dan menyisihkan ribuan orang juga.

Baru-baru ini, UGM mendadak tekenal karena ada berita bahwa lingkungannya sangat kotor. Sampah menumpuk dimana-mana. Sampah tak ditempatkan di tempat yang seharusnya. Sampah di Fakultas Kedokteran(FK) misalnya. Sampah ditempatkan di samping Lab Anatomi, benar-benar persis. Dari sumber yang didapat, kejadian itu sudah berjalan sekitar 2-3 tahun. Artinya, sudah lama sekali.

Tak hanya di FK, hal serupa juga terjadi Fakultas Teknik (FT). Contohnya di Departemen Teknik Kimia. Sampah atau limbah bahan kimia sudah lama dibiarkan begitu saja tak terurus. Bau bahan kimia menyengat begitu mendekati gedung departemen yang katanya sudah mendapat akreditasi internasional itu. Menyeberang sedikit, ada tumpukan sampah juga di samping Lab Pantai milik Departemen Teknik Sipil. Bahkan, semua sampah di FT diakumulasi di situ dan biasanya baru diangkut keluar setiap seminggu sekali. Hal ini tentu mengganggu kehidupan kampus.

Jalan Kaliurang pun juga menjadi korban. Jalan yang memisahkan UGM sayap barat dan timur ini menjadi tempat bercecerannya sampah, baik plastik, sayuran, dan lain-lain. Banyak mahasiswa yang jajan sembarangan lalu membuang sampah di trotoarnya. Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) menjadi fakultas yang menyumbang sampah terbanyak di pinggiran Jalan Kaliurang. FKG berada tepat di samping Jalan Kaliurang yang membuat begitu banyak sampah tercecer di pinggirnya.

Terakhir, kabar datang dari Lapangan Pancasila UGM. Lapangan Pancasila menjadi salah satu tempat terkotor di UGM. Betapa tidak, banyak kegiatan mahasiswa disana yang menimbulkan banyak sampah juga. Mahasiswa yang serng bermain bola disana menjadi penyumbang sampah terbanyak dengan jenis sampah plastik. Lalu, sisa-sisa bahan bangunan banyak yang berserakan di sekitar Lapangan Pancasila.

Maka dari itu, kami berharap pihak UGM bisa mengawasi dan mengatasi permasalahan ini. Kami ingin image UGM tidak terkotori oleh hal-hal semacam ini. Jika tidak segera diperbaiki, tidak memungkinkan peringkat UGM akan merosot dan disalip kampus-kampus lain. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kampus-kampus lain di tahun 2017 ini.

“”””

Ditulis oleh : Markesot (Januari 2017)

Setelah ditelusuri oleh para netizen, Markesot ternyata adalah mahasiswa University of Malaya, Malaysia, yang berasal dari Makassar. Dia tidak pernah ke Jogja. Ternyata, Markesot mendapat info dari para haters atau pemecah belah  dari dalam maupun luar UGM, entah siapa dia, yang selalu memberitakan UGM selalu buruk dan bermasalah. Setelah beberapa netizen menghubungi anak-anak UGM dari Fakultas-Fakultas di atas langsung, mereka sangat kaget. Apa yang disampaikan Markesot sangat subjektif dan tidak sesuai kenyataan….

Hikmahnya, jangan terlalu percaya apa yang ada di internet, apapun itu. Periksalah langsung ke orang yang bersangkutan, bukan lewat media-media. Wkwkwk, ojo serius-serius. VIVA UGM !!!

Dari,

Alumni Yang Mencintaimu

Beli Mobil Habis Kamu Wisuda? Bisa Kok

capture

Halo, lama gak jumpa setelah vakum ngeblog sekian lama. Mau bagi-bagi cerita aja hehe..

Inspirasi dari mendiang dari Om Bob Sadino di atas sangat dekat dengan realita sekarang. Di jaman dulu, saat saya masih SD, untuk punya mobil harus bayar cash, alias lunas, alias ga boleh ngutang dan nyicil. Sekarang? Beuh, Pajero 600 juta-an bisa dibawa pulang dengan duit 10 juta aja. Edan kan?

Jaman kita ini memang penuh godaan. Godaan berupa kemewahan instan yang didapat dengan utang sangat menggoda, apalagi untuk anak-anak muda yang udah mulai bisa nabung. Masa depan punya rumah dan mobil mewah seakan begitu dekat di mata. Bayangan pergi kemana-mana dengan mobil sendiri ditemani orang-orang tercinta sangat bisa dilakukan dengan sistem kredit, eh utang, di jaman ini.

Hehe, sebelumnya, saya nulis begini bukan berarti saya nggak pernah terlibat dalam cicilan alias kredit. Pernah saya sekali terlibat dalam cicilan saat membeli HP pertama saya dulu. Saya seneng banget waktu itu, bisa nyicil 150 ribu per bulan selama 10 bulan. Untuk mahasiswa, biaya itu kerasa murah banget untuk HP yang itungannya lumayan canggih waktu itu. Tapi, saya waktu itu bener-bener ngerasa gak tenang. Tiap bulan, ada telepon dari counter HP kalau besok waktunya bayar cicilan. Seringkali waktu itu, uang jajan pas habis, jadi sering juga minta lagi ke orang tua. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Padahal hitungan di kertas uang jajan ini harusnya masuk untuk hitungan segitu.

Akhirnya, saya baca-baca deh gimana sih hukumnya dalam agama saya, Islam, tentang kredit dan cicilan, terutama untuk rumah dan mobil, simbol kesuksesan dan kejayaan seorang anak Adam. Dan ternyata, eng ing eng. Baca sendiri yak. Hehhe. Intinya, ada praktik leasing antara pembeli, bank, dan penjual, dalam hal ini dealer mobil dan developer/kontraktor rumah. Bukan bermaksud mengharam-haramkan ini itu, saya ini cuma belajar dari ahlinya.

Intinya, kredit itu utang. Kalau kita ambil barang kredit, apalagi dengan akad-akad mengandung riba di atas, entah HP, mobil, rumah dan lain-lain,  sebenarnya itu bukan nambah aset, tapi nambah utang. Coba tanya yang beli mobil kredit, ada BPKB nya gak? pasti gak ada dong, lha wong belum lunas, alias mobilnya itu belum jadi miliknya seutuhnya, kayak kamu, belum jadi milikku seutuhnya. Ughh..

Saya disini bukan ahli. Saya cuma pembelajar kehidupan, belajar bagaimana kehidupan ini berjalan, dan bagaimana kehidupan ini seharusnya berjalan. Tentang kredit-kredit tadi, sudah banyak cerita pilu di baliknya. Tau Primagama? Bimbel populer kita jaman SD saya dulu. Sekarang sudah bangkrut. Gegara apa? Ya utang bank itu tadi. Mulai gak bisa bayar cicilan, telat bayar cicilan, didatangi debt collector, hingga aset disita bank. Akui saja, saya aja ngakuin kok, kalo kita nyicil untuk beli sesuatu, apalagi dengan ada unsur riba, perasaan selalu gak tenang. Dan, selalu pengen ngutang lagi kalau cicilannya lancar ke bank. Enak banget yah, hoho…

IMG20160903085536[1]

Setelah kejadian pertama saya dulu beli HP nyicil dan entah kenapa uang jajan selalu habis, tobatlah saya ini. Dengan tekad kuat, cicilan saya lunasin dalam 3 bulan. Seharusnya cicilannya 150 ribu per bulan, waktu itu saya pernah cicil langsung 300-400 ribu. Lunas, lega, HP full jadi milik saya.

Lalu, mikir lagi. Di jaman ini, gimana bisa beli mobil dan rumah kalau gak nyicil? Mobil macam Xenia aja untuk anak muda semacam saya ini udah cukup menaikkan “derajat” saya di depan orang lain, walau itu ngutang. Entah kenapa, tahun 2014 saya bertekad untuk beli rumah dan mobil cash, langsung lunas, gak pake nyicil. Capek nyicil, 10-25 tahun. Kebutuhan juga makin banyak kan dengan bertambahnya umur nanti?

Dengan modal nekat, buka bisnis sana sini, tahun 2016, bulan 31 Agustus 2016, seminggu setelah wisuda, saya resmi punya mobil sendiri, yang di atas itu. Cash, tanpa kredit. Alhamdulillah, walau mobil second. Allah memudahkan jalan hambaNya yang ingin menghindari jalan yang dilarangNya. Selalu ada jalan jika mengikuti kehendakNya, percayalah.

Jalannya emang gak gampang. Tahun 2014 itu  jaman masih mahasiswa, harus kesana kemari untuk dapatin uang. Kehujanan, kepanasan, sampai ban motor bocor, udah jadi tantangan. Sampe saya pernah nangis sendiri, kenapa harus ngelakuin bisnis ini semua sampai malam larut, dimana teman-teman saya yang lain santai banget hidupnya. Yah, mungkin itu jalan yang sedang diatur Allah kalau kita mengikuti aturanNya.

Selama 2 tahun, modal saya cuma yakin, kalau menghindari akad-akad riba, Allah pasti memampukan. Walau mobil itu sekarang itu udah saya jual lagi (biar bisa beli yang bagusan, heheheh), tapi hikmah dalam memperolehnya itu yang saya dapat. Usaha untuk mendapatkannya itu membuat mental saya bukan mental gampang utang untuk beli sesuatu. Entah kenapa, dengan adanya mobil itu kemarin, saya benar-benar terbantu aktivitasnya. Berkah kerasa. Gak ada yang nagihin cicilan sana sini. Beuh, plong rasanya kalau gak punya utang emang.

Inti dari tulisan ini bukan untuk gaya atau pamer, nggak sama sekali. Tulisan ini bertujuan supaya kita nggak terlalu maksa untuk sesuatu yang kita belum mampu sampai kita hutang. Di atas kertas emang enteng. Kalau kita gaji 10 juta sebulan, cicilan mobil dan rumah sebulan cuma 4 juta, enteng banget. Masih ada 6 juta. Tapi, realita pasti lain. Allah menghalalkan jual beli dan memusnahkan riba. Itu aja kuncinya. Sabar dan terus berusaha keras untuk bisa beli rumah dan mobil. Pak BJ Habibie aja butuh 10 tahun untuk bisa beli rumah sendiri di Jerman dulu, tentunya cash dong..

Saya yang berusaha menghindari riba sejak awal, alhamdulillah bisa kok beli mobil walau second. Hehehe. Masih banyak cerita di luar sana yang jalannya dimudahkan dengan menghindari akad riba. Ya gapapa second tapi full milik kita, daripada baru, tapi bukan milik kita. Kok tau? Tanyain aja mana BPKB nya, ada nggak? Hehe. Kalau nggak ada, ya udah, kalau bukan barang curian, ya barang utangan. Kalau kamu cicilannya ke bank lancar, hati-hati juga. Itu juga ujian buat kamu. Ujian bukan selalu kemiskinan. Kalau Fir’aun diuji dengan emas segunung, kamu diuji dengan lancarnya cicilan ke bank.

Mohon maaf kalau cerita ini kurang berkenan yak. Tidak ada maksud pamer sama sekali. Cuma untuk menyetop fenomena gampang utangan di kalangan muda yang makin banyak karena mulai berduit. Kalau warisan itu harus diturunkan ke ahli waris, kalau hutang gak bisa lho. Hati-hati, umur gak ada yang tahu. Hutang di dunia kalau belum lunas, akan dibayar dengan pahala di akhirat. Dan, ini untuk yang percaya aja. Yang nggak percaya, monggo hehe. Salam….

 

Lovely Jogjakarta

ZY

 

 

Riau Notes

Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini berada di Riau, yang berarti, suatu saat pasti saya akan kembali lagi ke sini. Sebuah belahan dunia baru, belahan tanah Indonesia lain yang Allah ijinkan kaki ini untuk menjejaknya. Melebarkan pandangan, merendahkan hati, ternyata masih banyak di luar sana orang yang butuh diambil pelajaran darinya.

Semenjak menjejakkan kaki di Riau, berbagai kemudahan begitu banyak Allah berikan. Transportasi, makanan, hingga jaringan-jaringan baru yang entah datang begitu saja dengan mudahnya.. Sebuah ajang internasional ketiga dalam waktu 2 tahun yang seakan menjadi pelengkap mimpi yang tertulis setahun lalu, di saat saya sadar, setelah hampir 4 tahun kuliah, belum pernah saya ikut ajang internasional.

Sejak di bandara SSK II Pekanbaru, sudah ada mobil yang menjemput langsung ke bandara. Memudahkan begitu banyak urusan. Kurir-kurir kebaikan Sedekah Rombongan Pekanbaru begitu baik mengantarkan saya kesana kemari, seakan saya ini tamu yang istimewa. Baru pertama saya ke Pekanbaru, begitu luar biasa sambutannya. Terima kasih teman-teman SR Pekanbaru atas bantuannya.

Belum cukup, ada juga orang-orang SR yang punya latar belakang Jogja. Jogja is never ending memory, untuk siapapun yang pernah tinggal di Jogja. Jadilah saya diajak ngopi-ngopi dan makan di Pekanbaru ini, dan semua dibayarin. Latar belakang sama-sama pernah hidup di Jogja membuat ikatan ini semakin kuat. Cerita-cerita angkringan, jalan-jalan di Jogja, senyum indahnya orang Jogja, membuat jiwa ini tidak kesepian di tanah orang.

Ketika mengikuti acara RIYS (Riau International Youth Summit) 2016, begitu banyak kemudahan yang Allah berikan lewat kerja keras panitia. Semua kebutuhan para peserta, tersedia dengan sempurna, tidak ada yang terlewat. Transportasi, wifi, hotel, dan lain-lain, sudah diakomodasi dengan baik. Diskusi dan dialog dengan bahasa Inggris berlangsung dengan lancar walau dengan berbagai perbedaan pendapat. Ribuan foto  tercipta di acara ini. Muchas Gracias, kakak-kakak panitia !!!

Istana Siak Sri Indrapura menjadi puncak acara  jalan-jalan. Istana megah peninggalan Sultan Syarif Kasim XII yang begitu megah. Istana yang dibangun begitu penuh perhitungan, penuh kemewahan, dan penuh keagungan. Istana yang berada di dekat Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia ini, memberikan kepuasaan yang tiada tara.

Sampai suatu saat, malam ini. Entah semua terjadi begitu cepat. Acara perpisahan para peserta yang seharusnya berlangsung dengan ramai dan lancar, entah mengapa dikacaukan oleh beberapa oknum. Oknum ini memaksa acara perpisahan ini dilakukan di sebuah tempat, yang tentu takkan saya sebutkan. Acara yang seharusnya di hotel, dipaksa pindah ke sebuah lapangan yang disulap menjadi pasar malam. Sungguh bukan tempat yang pantas untuk para peserta, apalagi yang berasal dari Indonesia.

Marah? Kecewa? ya, tentu ….

Sebuah acara internasional yang sudah dikelola, dihancurkan sehancur-hancurnya oleh sebuah oknum yang entah kenapa, mungkin begitu ingin memperbaiki citranya di depan masyarakat. Bayangkan, hasil diskusi berupa presentasi berbahasa Inggris, disajikan di para pedagang kaki lima wwwqwwq. Bukan meremahkan para pedagan kaki lima di sana. Cuma, materinya aja kurang tepat dan setelah saya survei sendiri, tanya ke abang-abang PKL, mereka gak ngerti para partisipisan RIYS ini ngomong apa. Gilee banget. Hasil kerja keras yang begitu banyak kemarin, langsung buyar seketika, karena keegoisan sebuah oknum.

Ya ya, ada pertemuan, ada perpisahan. Kenangan dengan para peserta RIYS ini takkan pernah terlupa. Seseorang di RIYS ini juga telah menggetarkan hati ini, haruskan aku terus memperjuangkanmu disana tanpa kepastian?

Tenang, Semua Kesendirian Itu Tidaklah Kekal

Pernah merasa sendiri?

Pernah merasa kesepian?

Pasti semua dari kamu pernah mengalami yang namanya kesepian, alias kesendirian. Kesepian dan kesendirian dengan berbagai sebab, yang menimbulkan perasaan gelisah, ada sepotong hati kita yang entah belum kamu temukan  di dalam hatimu sendiri. Sepotong hati yang dibungkus kerinduan tak menentu, menyasar ke segala arah.

76709-640x360-houses-of-parliament-and-london-eye-on-thames-from-above-640

Sebenarnya, kesendirian itu relatif. Tergantung dari mana kamu menilai seberapa sendiri diri kita. Yang membuat dirimu semakin merasa sendiri adalah momen-momen kebersamaan dan kebahagiaan orang lain. Ketika mereka sedang berbahagia bersama orang-orang yang mereka cintai, mungkin kamu di sini masih harus berjuang kesana kemari, mengejar mimpi, mengejar asa yang tak kunjung nampak, mengejar bayang-bayang yang entah terasa semakin menjauh, sendiri pula.

Perasaan sendiri makin menguat ketika melihat ketika teman-teman kamu, yang kita anggap juga merasa sendiri, tiba-tiba memiliki seseorang yang menghapus kesendiriannya. Seseorang yang tiba-tiba muncul tanpa diduga keberadaannya selama ini, memancarkan kebahagiaan teman-temanmu yang selama ini terpendam. Lalu, ada juga seseorang yang entah mengapa sangat kamu impikan untuk menghapus kesendirianmu, ternyata ia malah menghapus kesendirian orang lain. Semakin merasa sendiri bukan?

Buat para penyendiri, ada beberapa momen yang bisa kamu lakukan supaya kesendirianmu itu tidak mengarahkanmu ke arah yag negatif. Jadikan kesendirianmu menjadi bahan bakar kesuksesanmu, yang kelak akan membuatmu tahu, bahwa kesendirian itu tidaklah kekal. Bahwa selalu ada akhir dari sebuah kesendirian. Yang kamu perlu lakukan adalah mengisi kesendirianmu dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya:

  1. Travelling

20140826_091922

Travelling alias jalan-jalan membuatmu tahu, bahwa tujuan utama seorang traveller adalah rumahnya masing-masing, bukan tempat-tempat eksotis nan cantik di ujung-ujung dunia itu. Bepergianlah, supaya kamu tahu apa itu rindu. Bepergianlah, supaya kamu tahu apa arti keluarga. Bepergianlah, supaya kamu tahu betapa bahagianya ketika ada yang menyambutmu di pintu rumahmu ketika kamu pulang dari bepergianmu itu.

Travelling membuatmu tahu, bahwa dunia ini tak sebesar kaca rumahmu saja. Dunia ini dipenuhi berbagai macam orang yang memiliki keunikan masing-masing. Dunia ini dipenuhi perbedaan yang mengharuskan kita untuk saling mengenal. Bukankah begitu kabar langit mengabarkan? Supaya kita bertebaran di muka bumi dan saling mengetahui perbedaan untuk saling mengenal satu sama lain?

Pergilah, supaya kamu tahu terbuat dari apa rindu itu …

2. Kumpullah dengan Teman Lamamu, Walau Lagi Nggak Bener-Bener Kangen

IMG_5191

Banyak orang yang ogah-ogahan ketika diajak teman lamanya ketemu, sekadar ngobrol-ngobrol sambil ngopi di pinggir jalan. Banyak yang beranggapan itu buang-buang waktu, gak ada gunanya. Toh, masih bisa ketemu lain kali. Masih ada kesempatan lagi untuk ketemu dengannya.

Hilangkan dirimu dari mindset di atas. Kamu mungkin nggak kangen dengan teman lamamu, mungkin karena kamu masih sering kontak via sosmed. Tapi, siapa tahu, teman lamamu itu rindu akan dirimu. Siapa tahu pula, kamu lah orang yang paling ingin dia temui saat ini setelah bertahun-tahun terpisah mengejar mimpi masing-masing. Tumbuhkanlah rasa kangen di hatimu ketika ada teman lamamu datang ke kota tempat tinggalmu. Siapa tahu pula, ada rezeki datang yang ia bawa.

Temuilah teman lamamu, walau kamu lagi males atau gak kangen, walau itu cuma 10 menit. Berfotolah supaya momen itu bisa dikenang. Siapa tahu, setelah itu kamu akan lebih susah ditemui gegara kesibukanmu, pun juga dengan dia. Siapa tahu pula, ada rezeki yang ia bawa untukmu, namun kamu menolaknya.

  1. Tetapkan Seorang Yang Spesial di Hatimu

1621929_612256505515897_120779431_n Continue reading

Nikmat Hati

Nikmat hati. Nikmat yang agung, nikmat yang banyak insan muda terkungkung produktivitasnya karenanya. Nikmat hati, sering diiedentikkan dengan yang namanya cinta. Cinta pada pasangan, cinta pada kekasih yang mampu melengkapi diri seorang manusia. Cinta yang entah takkan bisa dirasakan nikmatnya bagi siapapun yang belum pernah merasakannya.

Nikmat hati, nikmat Tuhan yang begitu kompleks. Namun, kita yang ciptaanNya ini suka sekali membuat yang kompleks jadi sederhana. Dengan hati, kita bisa merasa ribuan macam perasaan. Dengan hati, kita merasakan ribuan insting seorang manusia yang begitu kompleks. Dengan hati pula, kita bisa merasa untuk apa dan siapa hati ini sebenarnya.

Hati itu untuk merasakan ribuan perasaan orang lain. Begitu banyaknya ruangan di hatimu, tapi tega sekali kamu hanya membagi ruang haitmu untuk dirimu dan orang yang kau anggap kekasih, pacar, atau sejenisnya. Ruang hati yang harusnya bisa menampung dan merasakan banyak perasaan  orang lain, hanya mampu menampung 2 perasaan, milikmu dan miliknya. Sementara saudara-saudaramu yang kesusahan disana, kerabatmu yang kesulian ekonomi, guru-guru masa kecilmu yang mulai menua, tetanggamu yang mungkin kelihatan mapan namun kelaparan, teman kosmu yang mungkin belum dikirimi uang, bahkan ,orang tuamu sendiri, bahkan Tuhanmu sendiri, sedikit sekali kamu sisakan di hatimu, atau bahkan mungkin sudah tidak ada lagi ruang untuk mereka di hatimu.

Maka, pantaslah banyak orang yang begitu dikecewakan seseorang yang sudah ia anggap sempurna, tak punya sandaran lagi dalam hatinya. Orang tua, kerabat, tetangga, hingga Tuhanmu, bagaimana mungkin mereka membantumu, kalau di hatimu tak pernah ada mereka? Kamu yang tak pernah memikirkan mereka, masihkah berharap mereka memikirkanmu? Merengeklah dulu, masukkan mereka segera ke hatimu.

Jika banyak ruang di dalam hati kita, ketika kita dikecewakan seseorang, kita masih punya sandaran yang bisa disinggahi. Teman, tetangga, kerabat, orang tua, hingga Tuhanmu, selalu siap menyambutmu, memelukmu, memberitahu kalau kamu akan dipertemukan orang yang takkan pernah mengecewakanmu. Kata penyair Arab, “Al Qolbul Malikul Jasad” (Hati Adalah Rajanya Tubuh). Hatimu itu yang mengontrol tubuhmu bekerja. Maka, bagilah hatimu itu untuk Tuhanmu dan banyak orang. Lembutkan hatimu dengan banyak merasakan perasaan orang lain yang kesulitan.

Khusus pendamping hidupmu nanti, jadikan hatimu laksana gunung es di Antartika. Menjulang rendah di luar, tapi menghujam dalam ke dasar lautan. Kelihatan kecil di luar, namun sesungguhnya sangat besar cintanya untukmu darinya.

Pasca Sarjana (1)

Sabtu lalu tanggal 3 September 2016, mungkin salah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya. Ada sebuah mimpi yang kembali dimudahkan Allah untuk diraih. Sungguh, Allah tahu dimana dan kapan mimpi itu tercapai. Nikmat yang saya dapat sabtu lalu adalah adanya mobil baru di garasi rumah saya nanti, Alhamdulillah. Walau hanya mobil second, atau mungkin yang kata anak-anak Malang gak mbois, ya tetep aja itu mobil. Seorang sarjana yang belum 2 minggu diwisuda udah bisa beli mobil hehe..

Sebenernya saya bingung juga ketika harus memutuskan mobil dulu apa nikah dulu (udah isu lama ini). Setelah dipikir-pikir baik buruknya, saya memutuskan untuk mobil dulu, yang nanti selain dipakai untuk diri sendiri, juga bisa dipakai untuk bantuin teman-teman yang butuh bantuan, atau saudara-saudara kita yang juga membutuhkan pertolongan. Masalah duit untuk nikahan, ya saya udah bilang Bapak via telepon kemarin, “Insya Allah ada rezekinya lagi, Pak nanti. Jangan kuatir”, kira-kira begitu kata-kata saya kepada Bapak sesaat saya deal dengan penjual mobil.

IMG20160903085536[1]

Jadul Banget Ya Mobilnya? Haha

                Mungkin kalau kata orang lain, saya ini setengah sinting, apalagi sama teman-teman saya yang udah pada nikah. Kayak yang dulu pernah digembar-gemborkan seorang temen kontrakan, “Kalau punya uang sejuta, mending nikah aja”. Kan gimana rasanya digituin. Sejuta di kantong, disuruh nikah. Ya mungkin kalau yang lain sanggup. Saya sih, ga sanggup hoho. Bukannya meragukan kekuasaan Allah yang Maha Kaya dan Mengayakan hamba-hambaNya yang taat, tapi bukankah kemampuan setiap orang meanggung beban mental finansial itu berbeda-beda. Mungkin yang di atas ketika udah punya sejuta udah sanggup menikah. Bahkan, yang modal 0 rupiah pun udah sanggup menikah. Ya, intinya, kesiapan dan kemampuan orang-orang beda-bega, gitu lah, hahha. Yang modal nikahnya 0 rupiah jangan sok-sokan, “Woy, gua nikah ga modal apa-apa bisa kok. Lu yang punya duit 20 juta masih nunda nikah aja…”. Pun, yang mungkin modal nikahnya sampai 100 jutaan , jangan sok-sokan juga, ”Woy, lu  mau ngasih istri lu makan apa, nikah aja pelit banget”. RIbet ya? Udah-udah ga usah bahas mana yang lebih baik ya. Semua baik, yang gak baik yang gak mau nikah haha.

Balik ke mobil second baru tadi. Walau cuma mobil second, saya selalu doain mobil ini berkah dan sehat selalu dah. Bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain yang lebih utama. Kalau boleh kasih bocoran, kenapa saya tergerak beli mobil baru ini karena pengen kayak temen-temen saya di komunitas Sedekah Rombongan (SR) jogja, yang punya 3 mobil yang digunakan untuk membantu pasien-pasien di DIY-Jateng yang kurang mampu untuk bisa dibantu dari transportasi hingga biaya pengobatan. Slogannya, “Cari Muka di Depan Tuhan”. Nguerii banget kan? Itulah kenapa saya mberatin mobil baru dulu, walau second hehe. Mayan bisa bantu orang lain, sekaligus menaikkan elektabilitas di depan calon mertua. Halah mas…

Ya, begitulah kisah saya dua hari terakhir ini. Lumayan bikin pikiran berat haha. Insya Allah semua ada jalannya. Setiap orang punya perannya sendiri, mungkin saya cocoknya ya kayak di atas itu. Teman-teman lain juga punya kisah hidup sendiri yang mungkin jauh lebih memukau dari cerita saya ini. See you..

Oh ya, btw alhamdulillah mobllnya ga pake riba belinya. Sungguh Allah Maha Mencukupi siapa saja yang yakin kepadaNya…

Membangun Start Up Digital

Membangun kolaborasi dalam sebuah start up digital adalah hal penting. Menyamakan tujuan besar menjadi hal yang penting dalam sebuah start up digital, baik dengan tim internal maupun eksternal. Tim internal adalah yang berhubungan dengan programming, akuntansi, copy writer dan lain-lain. Sedangkan tim eksternal adalah yang berhubungan supplier barang, partner perusahaan, dan lain-lain. DIbutuhkan kerja sama yang serasi antara bagian internal dan eksternal.

Sebagai contoh Sale Stock. Sale Stock mampu menghadirkan barang fashion wanita yang biasanya dijual dengan harga selangit dengan harga yang sangat murah, karena Sale Stock langsung menyuplai barang dari produsen barang tersebut. Di sinilah kolaborasi antara tim internal dan eksternal Sale Stock terlihat sehingga mampu menembus pasar wanita remaja hingga dewasa.

Membangun sebuah startup juga membutuhkan sebuah seni. Seni lebih ditujukan sebagai trademark, tagline, motto, dan atribut khas sebuah start up yang bisa membuat orang langsung tahu dengan adanya  atribut khas sebuah start up. Misalnya Dagadu Jogja. Orang akan langsung tahu jika mendengar Dagadu bahwa Dagadu adalah produsen kaos khas Jogja yang wajib dijadikan oleh-oleh kalau berkunjung ke Jogja. Butuh waktu sekitar 4-5 tahun sehingga Dagadu bisa se populer sekarang sebagai ikon Jogja.

Mindset juga menjadi hal penting dalam sebuah startup. Mindset yang harus dibangun sebuah startup adalah bisa menjadi bermanfaat untuk orang lain sehingga mampu memberi efek positif kepada masyarakat luas. Mindset inilah yang diusung start up seperti Gojek yang bertujuan membantu para tukang ojek untuk meningkatkan pendapatannya. Membangun mindset untuk menghasilkan start up yang profitable dan memberi manfaat banyak kepada orang lain memang tidak mudah. Bahkan, untuk mendapatkan mindset seperti itu berawal dari pengalaman pribadi mengenai masalah yang ada di masyarakat luas. Mindset profitable dan manfaat inilah yang harus dimilik para pendiri start up agar start up tersebut makin berkembang.

Membangun komunitas juga menjadi salah satu sumber inspirasi dalam membangun start up digital. Komunitas yang berjumlah anggota ratusan bahkan ribuan sangat potensial untuk dijadikan pasar. Dengan adanya komunitas yang di dalamnya memiliki hobi atau kesukaan yang sama, maka barang-barang atau jasa-jasa yang berkaitan dengan komunitas tersebut sangat potensial untuk ditawarkan. Faktor pengali berupa jumlah anggota komunitas menjadi sebuah faktor yang menentukan seberapa menarik sebuah  start up dibangun dengan berbasis komunitas itu.

Membangun start up di bidang media juga menjadi hal yang menarik. Asal konsisten dengan tema tertentu dan konten yang berkualitas, sebuah start up akan bisa makin berkembang. Bahkan, sebuah tema tertentu jika digarap dengan serius mampu menjadi bisnis yang menarik. Sebagai contoh Hipwee dengan tema remaja dan konten-konten bapernya yang sukses merebut hati para muda mudi. Lalu, Mojok, yang memiliki konten nyinyir yang mampu membuat banyak orang berdebat mengenai sesuatu. Semakin seru perdebatan, semakin dibenci. Semakin dibenci, semakin banyak yang baca. Semakin banyak yang baca, semakin banyak potensi uang yang masuk ke dalam kantong Mojok. Begitu bukan?

Jadi, masih ragu memulai start up? Pastikan start up digital yang kamu bangun bukan hanya bagus secara konten, namun juga mampu menghasilkan uang. Sampai jumpa di Indonesia Startup Summit 2017 !!

Kutuklah Kegelapan, atau Nyalakan Lilin?

Masalah kadang memang terus muncul dalam hidup kita. Hidup tanpa masalah bukan hidup. Masalah selalu menjadi hal yang coba dihindari orang. Padahal, satu masalah selesai, datang masalah satu lagi. Kadang, lebih dari satu malah.

Manusia pada dasarnya suka mengeluh. Mengeluh ketika mengalami kesulitan. Mengeluh ketika kehidupan ini terasa sempit. Mulailah ia mengutuk orang-orang di sekitarnya. “Dasar dia memang menyebalkan. Coba gak ada dia, hidupku pasti gak kayak gini”..”Coba dia begini dulu, pasti endingnya gak gini.. “Coba ngomongnya ke bapak tahun lalu, kan sekarang udah bisa jalan-jalan bareng”. Dan berbagai macam kata-kata kutukan lain.

577598_400761663309371_154265675_n

Izinkan kami berbagi sebuah cerita dari seorang pegawai kantoran biasa. Suatu saat, ia ingin anak satu-satunya memiliki tambang batubara. Karena ia sering mendengar ceramah-ceramah keajaiban sedekah, ia menyedekahkan motor satu-satunya ke sebuah panti asuhan. Gendeng, kan? Gendeng emang. Satu-satunya kendaraan yang ia punya malah ia sumbangkan demi keberhasilan anaknya yang baru lulus SMA. Cercaan cacian mulai mengalir dari sana sini, bahkan dari keluarganya sendiri. Udah hidup pas-pasan, berani banget nyumbangin motor satu-satunya.

Lalu, si anak pun ikut tes perguruan tinggi negeri. Beberapa hari kemudian, namanya tidak tercantum, alias gak diterima. Ia coba kampus favorit lain, tetep ditolak. Ia coba ke kampus swasta, ditolak juga. Stress pun mulai melanda. Di peruntungan terakhir, ia coba di sebuah kampus yang mungkin hanya terdengar namanya di kota itu. Masuklah dia di jurusan pertambangan. Tapi, cercaan dan sinisme dari saudara dekat pun makin kencang. “Tuh kan. Sedekah motor, malah ditolak negeri. Gimana coba..”..”Terlalu percaya ustadz-ustadz itu sih kamu..”. Dan berbagai sinisme lainnya..

Lambat laun ia pun lulus. Lalu, ia bekerja di perusahan tambang. Dengan bekal kesederahanaan dan kejujuran kariernya pun meningkat pesat. Suatu saat, sang pemilik perusahaan menceritakan masalah pribadinya. Ia dan istrinya tidak dikaruniai anak. Umurnya juga sudah renta. Ia berniat meninggalkan perusahaannya ini ke tangan anak itu tadi. Tanpa perlu sogok sana sini, sedekah sang ayah terbalas juga hari itu juga. Memiliki perusahaan tambang tanpa korupsi, kolusi, nepotisme, dan kawan-kawannya.

success

Maka, tak ada alasan kita mengutuk kegelapan, alias mengutuk masalah. Bisa jadi, teman-teman kita itu punya banyak masalah juga. Tapi bedanya dengan kita, mereka tidak mengeluh. Lebih-lebih mengeluh di sosmed. Bisa jadi masalah kita lebih sedikit, tapi mengeluh lebih banyak. Bisa jadi kita ini sebenarnya gak ada kekurangan suatu apapun, tapi masih juga mengeluh karena gak ada kerjaan. Itu kurang syukur namanya.

Maka, mulailah nyalakan lilinmu, dan hentikan mengutuk kegelapanmu. Besarkan nyala lilinmu, kegelapan itu akan pergi dengan sendirinya. Atau, teruskan kutukanmu, kegelapan itu akan semakin pekat. Lilin itu ada di tanganmu, tinggal kau nyalakan, atau kutuk saja.