Yang Kau Sebut Dalam Doa Itu Ternyata….

Hari ini hari yang spesial. Aku diundang ke pernikahan kakak kelas saya, walau gak akrab banget sih.. Mbaknya dulu pernah satu kepengurusan. Yang Mas nya sering ketemu futsal sama grup . Jadi, lengkap ya. Acaranya lumayan lah ya tempatnya, jauh banget. Harus segera sebelum acara selesai.

Aku masuk bersama rombongan  mendatangi pesta pernikahan beliau berdua (berasa tua banget mereka). Lalu, seperti biasa, ada kado kecil dari kami yang cuma anak kos ini untuk mereka berdua. Patungan untuk beli bed cover yang buat kami lumayan mewah. Ruangan itu penuh dengan tamu undangan, dan tentunya hidangan ala manten baru. Luar biasa suasananya. Jadi pengen hahaha.

Foto-foto bersama pengantin pun menjadi hal yang wajib dilakukan. Bahkan sampai-sampai ada yang membawa jersey futsalmya. Luar biasa, segitunya. Begitu turun dari panggung, muncullah sesosok suara..

“Hilmi….”, teriaknya kencang sekali. Rasanya aku sudah lama tak mendengar suara ini.

“Ah, kamu…”, balasku sambil senyum. Kamu itu yang kudoakan selama ini. Ternyata Allah pisahkan kita 4 tahun, dan kita dipertemukan di tempat ini. Seakan doa-doa selama ini terkabul.

327c2d1e25a54e7eeb015ffd5f7252c4

“Kapan ke Jogja?”, tanyaku antusias, melihat gadis pujaan tak disangka bertemu di tempat seperti ini, bawa keluarganya lagi. Kusapa bapak ibunya, sampai adiknya sekalian.

“Ya kan aku teman pengantin. Eh Mi, bisa minta fotoin gak? Pake HP ku ini”, pintanya langsung dibukain menu kamera segala. Ah, kamu. Minta lebih pun aku siap

“Kamu naik aja sono. Udah antri noh. Gimana kabarnya disana …..”, sambil basa basi ala anak kos dengan gadis pujaan yang lama tak bertemu. Lumayan basa basi 5 menit sebelum foto-foto.

Dia terlihat bahagia. Semakin terlihat shalihah dan manis, namun agak gendut, mungkin gegara kerjaannya sekarang jadi tambah males gerak. Foto-foto pun menjadi saksi bisu pertemuanku denganmu pertama kali. Entah aku merasa bersemangat. Kalau lelaki jatuh cinta, biasanya badannya bergetar. Aku tidak. Mungkin terlalu sering sebut menyebut namamu membuatku terbiasa denganmu.

Foto-foto pun selesai, dan menu kamera kututup sebelum kukembalikan. Dan, muncul sesosok pria bersamanya dengannya di wallpaper HP nya, di banyak momen. Ulang tahun, jalan-jalan, di restoran, dan lain-lain. Ya Allah, begitu lembut kau berikan jawaban atas doa-doaku selama ini. Apakah itu saudara laki-lakinya? Tentu tidak. Dia adalah anak pertama dan adiknya masih kecil-kecil.

Pertemuan pertama setelah 4 tahun, senang, namun berubah menjadi menusuk hati dengan lembut. Ya Allah, kau beri jawaban selembut ini atas doa-doaku. Kau beri jawaban selembut tumor menghabisi tubuh manusia. Dari luar tak kelihatan sakit, tapi di dalam, perih. Tapi, apa yang bisa kuperbuat. Aku sudah keep contact denganmu, walau tak intens seperti pacar. Bukankah itu yang selalu kau hindari? Aku sangat paham dirimu yang begitu menjaga dari hal-hal seperti itu.

43sujud_siluet

Dulu kamu begitu, sepertinya begitu menjaga. Tapi, foto tadi membubarkan segalanya. Pacaran? 99% pasti benar. Ah, mungkin itu cuma perasaan saja. Kutegarkan hati ini, kukembangkan senyum di bibir, kutampakkan keramahan bagaikan sahabat yang tak jumpa lama sekali…

“Kamu kegiatannya apa sekarang?”, sapanya, sambil kukembalikan HP nya.

“Ah, aku lagi bangun perusahaan sendiri. Setelah kemarin konveksi baju, sekarang berkembang ke web developer. Ya, masih ngurus-ngurus ijin usaha ini”, basa basiku sambil tetap bersikap hangat, bagai sahabat, tidak lebih.

“Ah, iya iya. Kamu pasti bisa. Oh iya aku pulang dulu ya. Cuma mampir karena juga liburan ini..”, pamitnya. Waw, secepat ini. Baru 10 menit kami bertemu setelah 4 tahun. 4 tahun aku mendoakannya, lalu dibalas dengan 10 menit yang singkat, dan entah bagaimana.

“Kamu kapan nyusul mereka?”, tanyaku penasaran, sekaligus konfirmasi secara tidak langsung tentang foto itu.

“Oh iya lupa aku. Juli ya kau harus dateng di Semarang. Tunggu ya undangannya pasti kukirim. Awas kamu gak datang ya”, katanya bersemangat dan hangat seperti seorang sahabat, sambil tertawa.

“Ah, iya aku tunggu kabarnya. Ah, aku duluan ya gabung anak-anak lain”, pamitku, sambil kulihat dia untuk terakhir kalinya, mungkin terakhir sebelum aku mendatangi resepsi pernikahannya nanti, di Juli yang mendung.

Empat tahun. Aku mengira dia adalah wanita yang begitu menjaga. Kamu sudah begitu terkenal di kalangan lelaki dengan sifat shalihah nan rupawanmu. Begitu menjaga. Tapi, foto tadi. Ah sudahlah. Mungkin itu baru seminggu, mungkin juga lebih. Wanita yang begitu menjaga, ternyata mungkin sempat pacaran kemana-mana juga walau singkat, sebelum pernikahan. Ada tulisan “Sayang-sayang bla bla …” pula di foto tadi, hahaha. Sedikit kaget dengan perubahan itu. Tapi, syukurlah kau sudah dilamar.

Tegarlah wahai hati. Teruslah berdoa wahai bibir. Teruslah melangkah wahai kaki. Teruslah merangkak naik ke puncak, wahai tangan. Tegakkan dirimu wahai kepala. Empat tahun doamu terkabul untuk bertemu, namun tidak untuk meminangnya. Sebenarnya, beberapa hari sebelum hari ini ada firasat bakal ketemu, dan benar terjadi. Ah, firasat, kau tak pernah salah. Tapi perasaan, kadang kau kadang salah.

Ah, Allah itu Maha Romantis. Ia menusuk hatinya hambaNya yang lemah ini dengan lembut. Ia mengajarkan kalau doamu pasti terkabul, dengan cara lain. Bukankah yang kupinta selama ini yang benar-benar menjaga sesuai syariatMu? Ya, Kau Maha Benar, Allah. Aku memintamu itu. Apa terlalu sempurna yang kuminta? Entah. Tapi, aku juga meminta nama, memohon nama. Tapi, Engkau Maha Tahu. Mungkin nama itu cuma sedikit keluar, sedikit sekali, dari apa yang ia dengungkan dulu di awal kuliah untuk benar-benar menjaga.

Engkau yang Maha Tahu hakikat doa ini. Engkau benar, mungkin ada nama lain yang lebih sesuai. Mungkin nama yang selama ini kuminta, ternyata ia sendiri yang mengubah prinsipnya. Aku tak menyalahkan dia, aku terlalu berprasangka. Mungkin saja, itu foto waktu jalan-jalan dengan teman lainnya, lalu dicrop karena mungkin berkesan. Itu sangat mungkin. Jangan menjudge yang tidak-tidak, Hilmi. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya selain menyebut namanya terus.

Undangannya hanya tinggal menungu waktu. Peluangku sudah tertutup. Tapi, disitulah misteri Allah makin asyik untuk dijalani. Bukankah Dia selalu mengabulkan doa hambaNya? Tentu dengan caraNya sendiri. Maka, ijinkanlah aku, malam ini, atau mungkin sepertiga malam nanti, menyebut namamu untuk terakhir kalinya, bukan untuk memintamu lagi seperti malam-malam sebelumnya. Aku doakan kamu bahagia dengan dirinya.

jodoh-itu-pasti

Mungkin ini indahnya cinta tanpa pacaran. Kalau jodoh, kamu pasti bahagia. Kalau bukan jodoh, kamu pasti bahagia mendoakannya. Selamat. Kalau saja, aku tak melihat foto itu, yakinlah, aku akan langsung berbicara ke ayah ibumu tadi, langsung di tempat, tanpa basa basi. Tapi, Allah mungkin menyuruh diri ini lebih berbenah lagi, mengumpukan ilmu dan uang yang lebih banyak.

Mungkin, hanya lewat doa saja kita bisa saling berinteraksi setelah ini. Selamat atas menjelang menempuh hidup barumu. Aku tak kecewa, hahaha. Hanya sedikit kaget dengan perubahan rencana dari Allah, sebaik-baik perencana hidup, yang datang mendadak, di tempat nikahan pula.

Maafkan kalau malam ini adalah malam terakhir aku menyebut namamu, karena mungkin setelah malam ini, aku akan fokus mendoakan nama-nama lainnya. Doaku terakhir kali untukmu malam ini, barakallahulak wa baraka ‘alaik wa jama’a bainakuma fii khoir…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s