Bersama Tak Selalu Bersatu (2)

Markisut

Nama itu kembali muncul dalam pikiran Markesot malam ini sepulang dari kedai kopi favoritnya bareng Markonah. Dengan hobi stalking nya, ia cari nama Markisut di media sosial macam pesbuk, instagram, twitter,dan lain-lain. Usut punya usut, muncullah nama Markisut di Instagram. Ia mulai stalking dari foto profilnya, bio, sampai postingannya

“Berhasil bertemu orangtuamu kemarin, maka nikmat Tuhanmu mana yang kau dustakan?” 

Kata-kata di bio instagram Markisut pun membuat Markesot panas. Berani-beraninya dia. Langsung ia capture tuh bio, lalu dikirim via Whatsapp Markonah. Anak jaman sekarang mainnya cepet banget dah kalau ngasih bukti stalking. Karena kepalanya kadung panas, Markesot tak bisa menahan emosinya. Benar juga dia sudah berani ketemu orang tuanya. Markesot (MO) vs Markonah (MA):

MO: Ini beneran ya Markisut udah ketemu orang tua kamu? (sambil nunjukin capture) 

MA: Iya bener itu. Aku gak bisa ngapa-ngapain..

MO: Kamu gimana terus? Mau nerima dia? (uap air udah mulai keuar dari ubun-ubunnya..)

MA: Belum tau aku. Masih diskusi dengan ayah ibu dulu. Ini nggak gampang

MO: Terus kita gimana kalo kamu nerima? Kita udah 3 tahun lho (mulai pegangin tisu, merinding denger respon selanjutnya..)
MA: Ya mau gimana lagi kalo diterima. Aku minta maaf sebelumnya. Kalau kamu emang serius sama aku, bapakku pengen kamu ke rumahku sekarang juga…

MO: Sekarang? Terus aku harus gimana?
MA: Ya ngomong kalo kamu mau ngelamar aku. Selama setahun terakhir, aku mulai mikir untuk apa kita bareng. Maaf baru ngomong sekarang

MO: Jadi, kamu …(masih ngetik)
MA: Maaf ya Sot. Tolong jangan hubungi aku dulu ..(langsung offline)

Sedih juga ngeliat nasib Markesot. Ternyata, setahu terakhir, Markonah udah ngga cinta lagi. Bagaikan orang ingin membuat minuman dingin di gelas, ada yang berulang-ulang mendinginkan dengan kipas angin, lalu tiba-tiba datang seseorang membawa es batu dan memasukkannya ke dalam gelas. Sia-sialah usaha si kipas angin yang berkali-kali itu, karena minuman itu langsung klop dengan sesuatu yang memang ia butuhkan.

Sama dengan hati wanita. Hati wanita itu gampang baperan. Jangan dimain-mainin. Apalagi sampai kayak Markesot yang sampai mengklaim di bio IG nya “Kamu itu milikku”. Bodoo. Markonah itu milik bapak ibunya masihan. Markesot pun jadi sadar. Ia salah. Markonah memang milik orang tuanya. Berani-beraninya dia mengklaim kalau Markonah itu miliknya, padahal yang membesarkan Merkonah adalah bapak ibunya.

nikah

Tapi, gua gak boleh nyerah, pikir Markesot. Masa disuruh dateng ke bapaknya gak mau. Tiap hari juga ke rumahnya aja berani, masa sekali ini aja ngadep bapaknya gak berani. Tapi gua modal apa ke bapaknya ntar, pikir Markesot lagi. Duit, belum cukup. Ilmu, apalagi. Yah, gimana ini. Galau sambil megangin tisu toilet mikirin Markonah

3 tahun sudah dilalui, akankah berakhir dengan ksesia-siaan? Nantikan seri Markesot-Markonah berikutnya

.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s