Merajut Mimpi, Memburu Asa

Hola !! Lama tak update. Berikut saya utarakan uneg-uneg yang mungkin juga dirasakan para mahasiswa tingkat akhir. Gak usah malu-malu, aku ngerti kok apa yang kamu rasa.

Masa-masa akhir kuliah selalu membuat seorang lelaki bingung. Meneruskan kuliah lagi, bekerja di instansi, membuka bisnis, menikah, atau menjadi kritikus film. Kritikus film? Ya itu, orang yang tiap hari kerjannya download dan nonton film mulu, terus dikomentarin filmnya pas habis, terus download lagi, nonton lagi, gitu terus. Hehehe

yusuf-_-_-_-_

Seorang lelaki pasti punya tanggung jawab terhadap keluarganya yang sekarang atau yang akan datang. Masa akhir kuliah membuat seorang lelaki menjadi berpikir lebih kritis, ternyata dunia ini tak seindah buku cerita. Ternyata, mencari duit itu tak semudah membalikkan telapak kaki (eh, itu susah ya? Haha). Dunia ini jadi lebih realistis di mas akhir kuliah. Ketika dulu berpikir, ah aku harus lulus cumlaude dalam 3,5 tahun. Nyatanya, sampai 4,5 tahun pun masih saja kemelut. Ketika dulu berpikir, aku harus masuk jurusan ini biar bisa masuk perusahaan ini biar gajinya gede, ternyata, saingannya ribuan untuk memperebutkan tempat yang mungkin cuma bisa dihitung jari.

office-lighting-166

Belum lagi, undangan nikahan teman-teman mulai bertebaran. Teman SD mulai satu per satu tanpa diduga mengadakan pernikahan dengan jodohnya masing-masing. Ternyata, dia yang dulunya badannya kurus kecil tak berbentuk, kini menjadi seorang yang begitu rupawan, hingga dirimu lupa kalau kamu pernah sekelas dengan dirinya. Dulu, temanmu yang hitam legam gara-gara sering panas-panasan main bola, tiba-tiba mingggu depan sudah mempersunting teman sekelasmu yang pendiam banget tanpa suara saat sekolah dulu. Belum lagi, ketika teman dekatmu minta tolong, “Bro, bisa bantuin desain undangan nikahanku gak?”. Betapa terkejut dan senangnya hatimu, sambil menangis menunggu kapan diri kita seperti ini.

Apalagi, ketika ada sedikit tekanan dari orang tua kita, menanyakan kejelasan progres masa depan kita. “Gimana kuliahnya”, “Kapan wisuda kamu?”, “Nanti rencana kerja dimana?”, “Temenmu yang pinter banget itu sapa namanya? Sekarang gimana kabarnya?”, dan berbagai kode lain yang siap menghujam pikiran seorang lelaki ketika menghadapi masa-masa akhir kuliah. Belum lagi ketika tiba-tiba orang tua kita ngirim gambar kita dengan seseorang hasil kepoan mereka di akun sosmed kita, duh, rasanya kita makin diawasin jelang lulus ini.

ddd303066fc3c3641c885e418b512822

Rasanya, tak adil kalau kita tak membahas masa depan yang mungkin masih kita galaukan, terutama para lelaki. Ini kapan nikah, nanti anak istri gue makan apa ya. Ntar kapan gue bisa beli mobil ya, ntar kapan ini itu terjadi ya. Dan berbagai macam pertanyaan yang selalu menghantui kita sebagai seorang lelaki. Kalau banyak mikir itu, apakah kita sebagai lelaki ini bisa dibilang “kebanyakan mikir”? Eitts, tunggu dulu. Jangan salah. Lelaki mikir gitu itu logis, wajar, normal. Malah ga wajar kalau seorang lelaki tidak memikirkan hal tersebut. Yang jadi masalah, kalau kita tidak yakin akan pertolonganNya ketika kita sedang butuh, sehingga menunda kita untuk melangkah ke depan.

Seorang ahli pernah berkata, kurang lebih demikian, “You can build your dreams from zero, even minus. But, not with empty hands”. Kamu bisa bangun mimpi-mimpimu dari nol, bahkan minus, tapi tidak dengan tangan kosong. Seorang lelaki harus memikirkan bagaimana caranya agar ia mampu membangun mimpi-mimpinya mulai karier, keluarga, gaya hidup dan lain-lain. Maka, bangunlah mimpi-mimpimu itu dari sekarang, dari hal kecil, dan dari dirimu sendiri. Dan, selalu tingkatkan kemampuan dan kemauan, jangan salah satunya saja.

wave-goodbye-to-the-worries-of-earning-extra-money-online

Ketika seorang lelaki ingin menjadi dosen, maka ia harus mampu menunjukkan nilai akademis yang memuaskan, yang menunjukkan kalau ia memang ahli di bidang itu. Ia juga harus mampu melewati level master dan doktor agar kemampuannya meningkat tajam. Ketika seorang lelaki ingin menjadi pengusaha, ia harus rela berjibaku kesana kemari mengurusi bisnisnya sendiri. Ia harus rela meninggalkan zona nyamannya bersama teman-temannya. Ketika temannya yang passionnya jadi dosen dan peneliti sibuk dengan berbagai paper di ruangan ber-AC dan wifi, ia harus rela angkat-angkat meja kursi, membersihkan rungan, telepon klien, dll. Dan berbagai macam pekerjaan impian seorang lelaki, mau tak mau harus dibayar dengan pengorbanan. Tanpa pengorbanan, sulit mewujudkannya.

Maka, di persimpangan akhir kuliah ini, pikirkan sudah seberapa jauh kita meraih mimpi kita. Yang ingin jadi dosen dan peneliti, sudah seberapa jauh langkah-langkah kamu untuk menuju kesana. Yang ingin jadi profesional di industri, sudah seberapa banyak persiapan kamu menuju ke sana. Yang ingin jadi pengusaha, sudah seberapa banyak langkah yang kamu tempuh untuk meraih kesuksesanmu. Seribu langkah menuju kesuksesan selalu diawalai dengan langkah pertama.

Fa idza azamta, fa tawakkal ‘alallah …

 

25 Maret 2016
Kampung Santri, Pogung, Sleman, Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s