Jangan Campuri Urusan Tuhan

Jadi begini..

Ceritanya, dulu pernah ke Rinjani. Ada namanya bukit penyesalan. Bukit yang membuat menyesal siapapun yang sudah sampai kesana. Menyesal karena terlalu jauh untuk kembali ke bawah, tapi masih jauh juga untuk ke puncak. Dan, pemandangan di atas selalu terlihat seperti puncak, padahal belum. Dan ada 4 bukit penyesalan disana. Ingat, EMPAT !!!

rinjani-03

Bukit Penyesalan Rinjani

Sering terjadi percakapan seperti ini antara pendaki dari bawah (B) dan atas (A):

B : Mas, berapa jauh lagi ke puncak?

A : Udah dekat kok. Nah, itu pohon paling atas itu udah puncak dah (kira-kira kayak gambar di atas itu lah)

B : Oke makasih

A : Semangat semangat tinggal dikit itu kok….

Dan setelah berjalan, 4 jam pun belum sampe puncak !!!!

Semakin tinggi di bukit penyesalan, semakin menyesal. Mau turun, nanti menyesal kok ga diterusin aja. Mau naik, nanti nyesel masih jauh, mending turun terus istirahat.

Sama dengan hidup ini. Setelah kita melewati satu rintangan hidup, kita bakal melewati rintangan lain yang lebih berat. Setelah menghadapi serigala hutan, kita menghadapi singa hutan untuk. Begitulah hidup ini.

Teruntuk kalian yang bermimpi besar, namun batu-batu yang kalian hadapi semakin besar menghadang, yakinlah, kalian sedang dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi batu-batu kehidupan lain. Jangan menyerah, walau secara finansial atau fisik belum terlalu kelihatan hasilnya. Yakinlah, Tuhan sudah memeluk mimpi-mimpimu.

Satu lagi, berdoalah. Lalu, berusahalah. Menangislah kalau perlu. Tapi, jangan terlalu mencampuri urusan Tuhan. Kamu minta rumah tipe 36, kok ga dikasi-kasi ya. Siapa tahu, Tuhan sedang menyiapkan rumah tipe 100 (ada ga sih) untukmu, lewat jalan yang berbeda.

Siapa tahu kan?  Kamu hanya perlu doa dan usaha. Selebihnya, itu urusan Tuhan. Jangan dicampuri.

Sama dengan ujian di kampus. Kamu cuma perlu kuliah dan ujian. Selebihnya, urusan dosen…

IPK 3 Aja Ga Jamin Apa-Apa, Apalagi IPK 2

Jangan panas dulu liat judulnya yak wkkw.” Mohon bersabar, ini ujian, ujian dari Allah”..

Jaman modern dan serba cepat menuntut profesionalisme, yang ditunjukkan dengan kemampuan akademik yang menunjang. Kemampuan akademik dilihat dari strata pendidikan dan tentu nilai akademik. Lulusan SMA/SMK tentu akan mendapat kualifikasi berbeda ketika masuk kerja dibanding yang lulusan unviersitas. Itu sudah lumrah, lazim.

318809_271574552947955_1775032224_n

Di bahasan kali ini, kami coba fokus ke para alumni kampus-kampus di Indonesia. Kemampuan para alumni kampus di Indonesia selalu ditampakkan dalam IPK, alias Indeks Prestasi Kumulatif, atau bahasa Inggrisnya GPA. IPK alias GPA di atas 3,00 adalah sebuah mimpi seluruh mahasiswa ketika mereka masuk kampus, apalagi kampus-kampus favorit di negeri ini. Para maba biasanya nulis gini di dinding kosannya :

“IPK 3,50, LULUS JUGA 3,50 TAHUN”

“IPK CUMLAUDE HARGA MATI !!!”

“IPK 4,00 BUKAN IMPIAN KOSONG…”

“LULUS CEPET, KERJA DI PERUSAHAN GEDE, NIKAH MUDA” (luarr biasa kalo ini)

“KALO IPK GUA DI BAWAH 3,00, MENDING GUA D.O AJA !!” (kalo ini goblok sih..)

Tulisan ini kami mulai dengan para pemilik IPK 3,00-4,00. Hai kalian, selamat kalian sudah berhasil memenuhi mimpi kalian. Memliki IPK yang cukup untuk membuat kalian masuk di bursa persaingan kuliah lanjutan dan kerja. Kalian punya peluang besar menembus dunia lain (maksudnya negara lain) dengan modal IPK kalian yang mencukupi itu. Terlebih kalian yang cumlaude, peluang kalian dilirik kampus-kampus dan perusahaan-perusahaan keren di dunia ini jadi lebih besar. Tentu saja, IPK 3,99 akan lebih membuat para staf HRD terbelalak daripada IPK 3,01 kan?

Para dosen ketika di awal kuliah kita dulu juga berpesan, “Kalian kalau bisa IPK ketika lulus minimal 3,00. Kalian jadi punya peluang lebih besar kemana-mana. Mau kerja atau kuliah dimana pun, kalian akan jadi lebih mudah”. Kira-kira begitulah pesannya. Kok bisa para dosen berpesan kayak gitu? Yah mereka kan udah ngalamin dulu. Apalagi, konon kalau dosen itu alumni-alumni terbaik di angkatannya masing-masing.  Jadi, tau lah ya …

Dengan IPK 3-4, kita bisa lihat teman-teman kita kerja perusahaan-perusahaan besar, misal Schlumberger, Pertamina, Paragon, Pupuk Pusri, dan lain-lain. Gajinya bisa 4-10 juta/bulan. Wiih, siapa yang gak ngiler. Ada juga temen kita keterima di kampus-kampus keren di luar negeri, misal UoM (university of Manchester), Harvard Unversity, NUS Singapore, dan lain-lain. Pengen? Semua orang pun juga pengen.

Tapi, kita melihat begitu banyak juga, mungkin dari teman-teman kita sendiri, begitu wisuda, masih jadi pengangguran. Jadi penganggurannya bisa dari 1-12 bulan. Tergantung orangnya. Kalo lebih dari 12 bulan ada ga? Ada sih kayaknya, cuma kami belum pernah ketemu sih. Dengan IPK yang mencukupi, ternyata masih banyak pengangguran intelektual di negeri ini. Anak-anak terbaik negeri ini harus rela menunggu kesempatan kerja atau kuliah lagi itu dengan rentang waktu yang cukup menyita perhatian, uang, sampai emosi.

Intinya, IPK mencukupi pun tidak menjamin apa-apa. Walau akhirnya nanti kerja atau kuliah lagi, tetap itu kembali ke masing-masing orangnya. Kalau kita orangnya bete an, pasti di tempat kerja bakal dijauhin sama teman-teman kerja, bahkan bos-bos kita, yang mungkin membuat kita ga nyaman juga. Kalau kita marahan, jangan kaget kalau bikin orang di kantor pusing gak karuan. Kesuksesan akan kembali ke diri masing-masing. Jadi, masih pengen punya IPK 3-4 ? Ya kalau bisa sih hahah…

Kalau yang punya IPK 3-4 aja ga menjamin apa-apa ke depannya, pun dengan IPK di bawah 3,00. Mulai dari IPK 2,00 – 2,99 (kalo IPK satu koma biasanya di D.O sih). Kebanyakan yang IPK nya di rentang itu berpikiran untuk jadi pengusaha. Mereka kebanyakan berpikir, “Bill Gates gak lulus kuliah juga jadi orang terkaya nomor 1 dunia”. Eitts, yang gini-gini juga keliru.

Bill Gates emang DO dari kampusnya. Masalahnya, dia DO nya dari Harvard University. Inget, Harvard. Kalau kita mah, tanpa bermaksud merendahkan kampus-kampus di Indonesia, mungkin harus kerja lebih keras untuk bisa seperti Bill Gates. Masalahnya lagi, Bill Gates konon DO karena udah bisa programming sendiri, jadi itungannya materi kuliahnya boring buat dia. Kalo kita, materi kuliahnya mungkin boring gegara kita males baca. Bener? Ngaku aja heheh..

Intinya, Bill Gates D.O bukan dengan otak dan tangan kosong. Begitu kawan ..

Memang, dengan IPK di bawah 3,00 , kesempatanmu untuk bisa kerja dan kuliah lanjut ga sebesar yang IPK 3,00 ke atas. Mungkin, dari situlah akhirnya otak kita berpikir lebih keras dan kreatif gimana cara dapet penghasilan misal nanti ga ketrima kerja atau kuliah lagi. Biasanya sih bisnis ujung-ujungnya. Bayang-bayang kesuksesan Bill Gates pun seakan terpampang di depan. Eitss, tunggu dulu..

Bisnis itu justru membutuhkan mental yang kuat. Jangan dikira buka bisnis sekali langsung sukses bisa beli rumah. Pasti akan ada masalah dan kerugian. Di sini lah dibutuhkan mental yang kuat, mental ga gampang nyerah. Dengan kondisi IPK mu seperti itu, mungkin inilah satu-satunya jalan menuju kesuksesanmu. Jangan gampang menyerah. Yang repot adalah, udah IPK pas-pasan, usaha dan mental juga pas-pasan. Kelar dah …

Jadi, kalau IPK mu pas-pasan, pakai otak dan tanganmu semaksimal mungkin. Jangan males..

Rezeki itu berbanding lurus dengan usaha. Mungkin, teman-teman kita dulu lebih rajin, sehingga IPK nya cukup untuk langsung kerja atau kuliah lagi. Mungkin, kita dulu males, jadi IPK nya pas-pasan. Gak ada kata terlambat. Berusahalah dari sekarang. Jangan males lagi biar rezekinya banyak.

PENGANGGURAN ITU SEMENTARA, TAPI REZEKI SELALU ADA…

KAMU BISA MULAI HIDUPMU DARI NOL, TAPI TIDAK DENGAN TANGAN KOSONG..

Berapapun IPK mu, jadikan ia nanti sebagai bahan candaan dengan temanmu ketika reunian. Jadikan ia cerita di balik kesuksesanmu nanti. Ga ada yang lebih baik berapapun IPK mu, bahkan kamu lulus atau nggak, semua sama aja. Tapi, kalo bisa ya lulus lah, buat nyenengin orang tua di rumah, hehe..

Jadi, mau IPK berapa pas lulus? Seikhlasnya aja …

 

UGM Kampus Paling Kotor di Indonesia

logo-ugm

UGM alias Universitas Gadjah Mada. Terkenal sebagai salah satu universitas favorit di Indonesia. Puluhan ribu anak bangsa berebut tiap tahunnya untuk masuk ke sini. Jurusan-jurusan favorit macam Pendidikan Dokter, Teknik Nuklir, Kehutanan, dan lain-lain, ramai dilamar oleh ribuan orang dan menyisihkan ribuan orang juga.

Baru-baru ini, UGM mendadak tekenal karena ada berita bahwa lingkungannya sangat kotor. Sampah menumpuk dimana-mana. Sampah tak ditempatkan di tempat yang seharusnya. Sampah di Fakultas Kedokteran(FK) misalnya. Sampah ditempatkan di samping Lab Anatomi, benar-benar persis. Dari sumber yang didapat, kejadian itu sudah berjalan sekitar 2-3 tahun. Artinya, sudah lama sekali.

Tak hanya di FK, hal serupa juga terjadi Fakultas Teknik (FT). Contohnya di Departemen Teknik Kimia. Sampah atau limbah bahan kimia sudah lama dibiarkan begitu saja tak terurus. Bau bahan kimia menyengat begitu mendekati gedung departemen yang katanya sudah mendapat akreditasi internasional itu. Menyeberang sedikit, ada tumpukan sampah juga di samping Lab Pantai milik Departemen Teknik Sipil. Bahkan, semua sampah di FT diakumulasi di situ dan biasanya baru diangkut keluar setiap seminggu sekali. Hal ini tentu mengganggu kehidupan kampus.

Jalan Kaliurang pun juga menjadi korban. Jalan yang memisahkan UGM sayap barat dan timur ini menjadi tempat bercecerannya sampah, baik plastik, sayuran, dan lain-lain. Banyak mahasiswa yang jajan sembarangan lalu membuang sampah di trotoarnya. Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) menjadi fakultas yang menyumbang sampah terbanyak di pinggiran Jalan Kaliurang. FKG berada tepat di samping Jalan Kaliurang yang membuat begitu banyak sampah tercecer di pinggirnya.

Terakhir, kabar datang dari Lapangan Pancasila UGM. Lapangan Pancasila menjadi salah satu tempat terkotor di UGM. Betapa tidak, banyak kegiatan mahasiswa disana yang menimbulkan banyak sampah juga. Mahasiswa yang serng bermain bola disana menjadi penyumbang sampah terbanyak dengan jenis sampah plastik. Lalu, sisa-sisa bahan bangunan banyak yang berserakan di sekitar Lapangan Pancasila.

Maka dari itu, kami berharap pihak UGM bisa mengawasi dan mengatasi permasalahan ini. Kami ingin image UGM tidak terkotori oleh hal-hal semacam ini. Jika tidak segera diperbaiki, tidak memungkinkan peringkat UGM akan merosot dan disalip kampus-kampus lain. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kampus-kampus lain di tahun 2017 ini.

“”””

Ditulis oleh : Markesot (Januari 2017)

Setelah ditelusuri oleh para netizen, Markesot ternyata adalah mahasiswa University of Malaya, Malaysia, yang berasal dari Makassar. Dia tidak pernah ke Jogja. Ternyata, Markesot mendapat info dari para haters atau pemecah belah  dari dalam maupun luar UGM, entah siapa dia, yang selalu memberitakan UGM selalu buruk dan bermasalah. Setelah beberapa netizen menghubungi anak-anak UGM dari Fakultas-Fakultas di atas langsung, mereka sangat kaget. Apa yang disampaikan Markesot sangat subjektif dan tidak sesuai kenyataan….

Hikmahnya, jangan terlalu percaya apa yang ada di internet, apapun itu. Periksalah langsung ke orang yang bersangkutan, bukan lewat media-media. Wkwkwk, ojo serius-serius. VIVA UGM !!!

Dari,

Alumni Yang Mencintaimu

Beli Mobil Habis Kamu Wisuda? Bisa Kok

capture

Halo, lama gak jumpa setelah vakum ngeblog sekian lama. Mau bagi-bagi cerita aja hehe..

Inspirasi dari mendiang dari Om Bob Sadino di atas sangat dekat dengan realita sekarang. Di jaman dulu, saat saya masih SD, untuk punya mobil harus bayar cash, alias lunas, alias ga boleh ngutang dan nyicil. Sekarang? Beuh, Pajero 600 juta-an bisa dibawa pulang dengan duit 10 juta aja. Edan kan?

Jaman kita ini memang penuh godaan. Godaan berupa kemewahan instan yang didapat dengan utang sangat menggoda, apalagi untuk anak-anak muda yang udah mulai bisa nabung. Masa depan punya rumah dan mobil mewah seakan begitu dekat di mata. Bayangan pergi kemana-mana dengan mobil sendiri ditemani orang-orang tercinta sangat bisa dilakukan dengan sistem kredit, eh utang, di jaman ini.

Hehe, sebelumnya, saya nulis begini bukan berarti saya nggak pernah terlibat dalam cicilan alias kredit. Pernah saya sekali terlibat dalam cicilan saat membeli HP pertama saya dulu. Saya seneng banget waktu itu, bisa nyicil 150 ribu per bulan selama 10 bulan. Untuk mahasiswa, biaya itu kerasa murah banget untuk HP yang itungannya lumayan canggih waktu itu. Tapi, saya waktu itu bener-bener ngerasa gak tenang. Tiap bulan, ada telepon dari counter HP kalau besok waktunya bayar cicilan. Seringkali waktu itu, uang jajan pas habis, jadi sering juga minta lagi ke orang tua. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Padahal hitungan di kertas uang jajan ini harusnya masuk untuk hitungan segitu.

Akhirnya, saya baca-baca deh gimana sih hukumnya dalam agama saya, Islam, tentang kredit dan cicilan, terutama untuk rumah dan mobil, simbol kesuksesan dan kejayaan seorang anak Adam. Dan ternyata, eng ing eng. Baca sendiri yak. Hehhe. Intinya, ada praktik leasing antara pembeli, bank, dan penjual, dalam hal ini dealer mobil dan developer/kontraktor rumah. Bukan bermaksud mengharam-haramkan ini itu, saya ini cuma belajar dari ahlinya.

Intinya, kredit itu utang. Kalau kita ambil barang kredit, apalagi dengan akad-akad mengandung riba di atas, entah HP, mobil, rumah dan lain-lain,  sebenarnya itu bukan nambah aset, tapi nambah utang. Coba tanya yang beli mobil kredit, ada BPKB nya gak? pasti gak ada dong, lha wong belum lunas, alias mobilnya itu belum jadi miliknya seutuhnya, kayak kamu, belum jadi milikku seutuhnya. Ughh..

Saya disini bukan ahli. Saya cuma pembelajar kehidupan, belajar bagaimana kehidupan ini berjalan, dan bagaimana kehidupan ini seharusnya berjalan. Tentang kredit-kredit tadi, sudah banyak cerita pilu di baliknya. Tau Primagama? Bimbel populer kita jaman SD saya dulu. Sekarang sudah bangkrut. Gegara apa? Ya utang bank itu tadi. Mulai gak bisa bayar cicilan, telat bayar cicilan, didatangi debt collector, hingga aset disita bank. Akui saja, saya aja ngakuin kok, kalo kita nyicil untuk beli sesuatu, apalagi dengan ada unsur riba, perasaan selalu gak tenang. Dan, selalu pengen ngutang lagi kalau cicilannya lancar ke bank. Enak banget yah, hoho…

IMG20160903085536[1]

Setelah kejadian pertama saya dulu beli HP nyicil dan entah kenapa uang jajan selalu habis, tobatlah saya ini. Dengan tekad kuat, cicilan saya lunasin dalam 3 bulan. Seharusnya cicilannya 150 ribu per bulan, waktu itu saya pernah cicil langsung 300-400 ribu. Lunas, lega, HP full jadi milik saya.

Lalu, mikir lagi. Di jaman ini, gimana bisa beli mobil dan rumah kalau gak nyicil? Mobil macam Xenia aja untuk anak muda semacam saya ini udah cukup menaikkan “derajat” saya di depan orang lain, walau itu ngutang. Entah kenapa, tahun 2014 saya bertekad untuk beli rumah dan mobil cash, langsung lunas, gak pake nyicil. Capek nyicil, 10-25 tahun. Kebutuhan juga makin banyak kan dengan bertambahnya umur nanti?

Dengan modal nekat, buka bisnis sana sini, tahun 2016, bulan 31 Agustus 2016, seminggu setelah wisuda, saya resmi punya mobil sendiri, yang di atas itu. Cash, tanpa kredit. Alhamdulillah, walau mobil second. Allah memudahkan jalan hambaNya yang ingin menghindari jalan yang dilarangNya. Selalu ada jalan jika mengikuti kehendakNya, percayalah.

Jalannya emang gak gampang. Tahun 2014 itu  jaman masih mahasiswa, harus kesana kemari untuk dapatin uang. Kehujanan, kepanasan, sampai ban motor bocor, udah jadi tantangan. Sampe saya pernah nangis sendiri, kenapa harus ngelakuin bisnis ini semua sampai malam larut, dimana teman-teman saya yang lain santai banget hidupnya. Yah, mungkin itu jalan yang sedang diatur Allah kalau kita mengikuti aturanNya.

Selama 2 tahun, modal saya cuma yakin, kalau menghindari akad-akad riba, Allah pasti memampukan. Walau mobil itu sekarang itu udah saya jual lagi (biar bisa beli yang bagusan, heheheh), tapi hikmah dalam memperolehnya itu yang saya dapat. Usaha untuk mendapatkannya itu membuat mental saya bukan mental gampang utang untuk beli sesuatu. Entah kenapa, dengan adanya mobil itu kemarin, saya benar-benar terbantu aktivitasnya. Berkah kerasa. Gak ada yang nagihin cicilan sana sini. Beuh, plong rasanya kalau gak punya utang emang.

Inti dari tulisan ini bukan untuk gaya atau pamer, nggak sama sekali. Tulisan ini bertujuan supaya kita nggak terlalu maksa untuk sesuatu yang kita belum mampu sampai kita hutang. Di atas kertas emang enteng. Kalau kita gaji 10 juta sebulan, cicilan mobil dan rumah sebulan cuma 4 juta, enteng banget. Masih ada 6 juta. Tapi, realita pasti lain. Allah menghalalkan jual beli dan memusnahkan riba. Itu aja kuncinya. Sabar dan terus berusaha keras untuk bisa beli rumah dan mobil. Pak BJ Habibie aja butuh 10 tahun untuk bisa beli rumah sendiri di Jerman dulu, tentunya cash dong..

Saya yang berusaha menghindari riba sejak awal, alhamdulillah bisa kok beli mobil walau second. Hehehe. Masih banyak cerita di luar sana yang jalannya dimudahkan dengan menghindari akad riba. Ya gapapa second tapi full milik kita, daripada baru, tapi bukan milik kita. Kok tau? Tanyain aja mana BPKB nya, ada nggak? Hehe. Kalau nggak ada, ya udah, kalau bukan barang curian, ya barang utangan. Kalau kamu cicilannya ke bank lancar, hati-hati juga. Itu juga ujian buat kamu. Ujian bukan selalu kemiskinan. Kalau Fir’aun diuji dengan emas segunung, kamu diuji dengan lancarnya cicilan ke bank.

Mohon maaf kalau cerita ini kurang berkenan yak. Tidak ada maksud pamer sama sekali. Cuma untuk menyetop fenomena gampang utangan di kalangan muda yang makin banyak karena mulai berduit. Kalau warisan itu harus diturunkan ke ahli waris, kalau hutang gak bisa lho. Hati-hati, umur gak ada yang tahu. Hutang di dunia kalau belum lunas, akan dibayar dengan pahala di akhirat. Dan, ini untuk yang percaya aja. Yang nggak percaya, monggo hehe. Salam….

 

Lovely Jogjakarta

ZY