Fanatisme Almamater

Almamater selalu menjadi kebanggan bagi siapapun. Siapa sih yang gak bangga jadi alumni suatu sekolah atau kampus. Almamater bahkan menjadi salah satu pertimbangan dalam masuk dunia kerja, walau tidak 100% selalu begitu. Namun, agaknya kita harus mulai mengurangi rasa bangga berlebihan kepada almamater. Bangga boleh, tapi jangan fanatik, apalagi ekstrimis kepada almamaternya, hehe.

kemeja-ftif

Tulisan ini saya buat setelah menjalani perkuliahan dan sudah sampai ujung jalan ini. Saya melihat dan menengok ke adik-adik angkatan bawah saya, wah sudah tua sekali saya ini hehe. Saya jadi ketawa sendiri mengingat masa-masa awal kuliah dulu dimana sang senior selalu melancarkan paham fanatisme jurusan, fakultas, sampai organisasi. Terutama jurusan. Pernah suatu ketika (tak perlu saya sebutkan jurusannya, anak UGM pasti ngerti), 2 jurusan dari 2 fakultas yang berbeda selalu riut kalau suporteran bola, futsal, basket, sampe bekel (hala mas mas). Saking serunya rivalitas kedua kubu, dulu pernah ada cerita jurusan A main ke jurusan B esok setelah ribut suporteran bola, dan suporter jurusan A bawa alat-alat tajam macam pedang, pisau dan lain-lain. Wah ngeri sekali ya. Untung pihak kampus berhasil mengamankan mereka lebih dahulu.

Lalu, juga ada cerita, di fakultas A di kampus sebelah (ga perlu saya sebut jurusannya lagi ya), ada beberapa jurusan yang tidak sepaham dengan pola pikir BEM fakultas, entah dari mananya saya juga kurang paham. Intinya, KM/HM dari jurusan itu semacam membuat aliansi terselubung yang terdiri dari gabungan dari KM/HM mereka. Pas ada kampanye calon ketua BEM fakultas di jurusan-jurusan itu, selalu para calon ketua “disemprot” habis-habisan. Disemprot secara subjektif menurut cara pandang mereka.

dsc_3100-600x400

Dan tentu yang paling lucu saat ospek fakultas X beberapa tahun lalu, saya gak ingat persis, ada suatu fakultas di kampus saya (gak usah saya sebut lagi ya fakultasnya hahaha) lagi ngadain ospek fakultas untuk maba fakultas itu. Pas pembentukan panitia, ada masalah yang sebenarnya kecil, tapi dibuat besar oleh KM/HM tertentu yang tidak puas dengan pembentukan panitia. Tahu tidak apa masalahnya? Cuma gara-gara koordinator komisi disiplin (komdis), yang bagian marah-marah gak jelas (maaf saya katain gak jelas, karena emang isinya marahnya kosong, gak mutu), bukan dari jurusan itu. Bahkan, mereka mengancam gak akan mengirim perwakilan di komdis kalau koornya bukan dari jurusan mereka. Jurusan itu dikenal sebagai langganan untuk koordinator komdis karena dianggap ospek jurusannya yang paling keras (beberapa senior ada yang menyebutnya paling berkesan), jadi dianggap cocok. Wah, saya ketawa sekali itu mendengar kasus itu. Benar-benar fanatik, udah cenderung ekstrimis.

Maka dari itu, adik-adik angkatanku tercinta, dari kampus mana pun, buang jauh-jauh kata-kata seniormu yang menyebut jurusanmu itu yang paling unggul di kampusmu, atau bahkan mngkin paling unggul di negara ini. Buang ungkapan gombal itu. Banggalah dengan jurusan kamu belajar, tapi jangan fanatis. Ketika kamu jadi perwakilan KM/HM jurusanmu di fakultas atau universitas, jangan mau menang ego sendiri, sampai menganggap jurusan lain di bawah. Pun kalau suporteran. Kalau pun harus gojlok-gojlokan (bingung bahas Indonesianya) pas suporteran, ya udah, gojlok-gojolokan nya dihabisin pas peluit akhir pertandingan selesai. Mbok sering-sering nonton Lig Inggris, pas pertandingan, suporter kedua tim ejek-ejekan. Tapi pas udah selesai pertandingan, ya udah, jadi teman lagi. Jiwa-jiwa muda kalian itu sayang dek kalau harus  bonyok, luka, sampai cedera gara-gara bentrok suporteran di kampus. Pemainnya aja gapapa, eh suporternya yang bonyok. Kan gak lucu, mahasiswa lagi.

suporter-psm-dibusur_20150926_201823

Bangga bukan berarti harus fanatik. Kalau kamu masih fanatik dengan almamatermu, siap-siap untuk hidup sendiri di dunia ini haha. Kenapa sih kita gak boleh fanatik almamater? Karena fanatisme emang gak bagus dimana-mana, mulai almamater, agama, pola pikir, dan lain-lain. Sebagai penutup, ada anekdot yang semoga menghancurkan fanatisme kamu terhadap almamater, sehingga nanti kamu bisa lebih terbuka dan bisa hidup berdampingan dengan teman-teman dari beda almamater. Anekdot ini tentang nilai kuliah, A, B, sampai E terhadap jodoh yang didapat. Berikut analisisnya:

E : dapat jodoh sejurusan dan seangkatan
D: dapat jodoh sejurusan, tapi beda angkatan
C: dapat jodoh se fakultas
B: dapat jodoh se universitas
A: dapat jodoh dari beda kampus

Sekian. Salam anti fanatisme…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s