Tips Bikin Surat Perusahaan (CV, PT, dkk)

Ini adalah sambungan postingan beberapa waktu lalu tentang membuat surat perusahaan seperti CV, PT, dan lain-lain. Maka disini saya akan bagi pengalaman mengenai beberapa hal yang saya alami selama membuat surat-surat perusahaan. Karena saya bikinnya CV, mungkin ini pas buat kamu yang mau bikin CV. Tapi, misal pengen bikin selain juga kurang lebih sama, cuma bedanya di biaya dan syarat-syarat tertentu saja.

Ada beberapa hal baru yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Ada yang menyenangkan sampai membingungkan. Berikut beberapa pengalaman saya:

What would you do if you won the lottery?

a. Akta Notaris Lama Banget Jadinya karena Syarat Kurang 1

Akta notaris CV saya baru jadi sekitar 1 bulan semenjak mengumpulkan persyaratan untuk membuat surat CV. Hal ini karena saya belum dapat KTP pemilik tanah. Jadi gini ceritanya. Rumah teman saya yang saya jadiin kantor CV itu kan ada surat tanah. Nah, surat tanah itu masih pakai pemilik lama. Pemilik lama itu gak mau ngasih fotokopi atau foto KTP nya dengan alasan tertentu. Teman saya sebagai pemilik baru rumah pun mencoba untuk dibalik nama surat tanahnya, alias diganti nama pemiliknya dengan nama bapaknya. Padahal untuk balik nama juga butuh KTP pemilik lama. Ribet kan?

Setelah pemilik lama dan baru nego sekian minggu, muncullah KTP pemilik lama dengan difoto. Saya yang nunggu hampir sebulan lega banget setelah dikatung-katung selama ini. Padahal proyek-proyek menunggu di depan. Jadi, kamu yang mau bikin syaratnya tolong dilengkapi bener-beneer, terutama kalau berkaitan dengan pemilik lama surat tanah atau rumah.

b. Tanda Tangan Warga Sekitar

Disini adalah titik penting dalam pembuatan surat-surat usaha kamu. Kamu harus bisa meyakinkan tetangga kamu kalo kamu akan bikin usaha di tempat yang kamu bikin. Kamu harus dapat tanda tangan tetangga kanan, kiri, depan, dan belakang tempat usaha. Kemampuan sosialmu benar-benar ilatih disini. Jangan sampai warga gak setuju cuma gara-gara kamu kurang sopan kepada tetanggamu. Nanti biasanya kamu dapat nasihat dari warga sekitar yang kamu mintain tanda tangan supaya kamu juga ikut menjaga ketertiban dan kebersihan kompleks.

c. Hati-Hati dengan RT, RW, Lurah, sampai Camat yang Nakal

Disini adalah hal yang mungkin rahasia umum, tapi belum banyak tahu. Hal ini tidak menggeneralisir semua yang menjabat dengan jabatan-jabatan di atas. Hal ini cuma terjadi beberapa orang, tidak semua. Namun, alangkah baiknya kalau kita mengetahuinya supaya bisa mengantisipasinya.

Intinya, kamu harus hati-hati kalau kamu nemu orang yang nakal kayak gitu, alias minta uang ke kamu biar kamu dapat tanda tangannya. Pengalaman teman saya ada yang mau bikin surat perusahaan juga, RW nya minta uang 5 juta supaya dapat tanda tanggannya. Lalu, ada beberapa teman yang bercerita serupa sebelum saya minta tanda tangan ke RT RW saya setempat. Alhamdulillah, RT RW saya baik-baik, gak perlu bayar pungli di atas. Malah dikasih masukan gimana biar usaha saya ini lancar dan sebagainya.

Advertisements

Kampus Yang Tak Dirindukan

Kalau kita denger kata kampus, mungkin akan terkenang masa-masa lalu yang entah begitu indah untuk dikenang. Masa kampus adalah masa yang memang untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Ya kali mau teriak “Hidup Mahasiswa Indonesia” terus sampai tua, kapan hidup sama kamunya…

Momen-momen terakhir berstatus mahasiswa di sebuah kampus yang katanya elite mungkin membuat diri ini tertawa sendiri melihat kesibukan adik-adik angkatan di kampus. Malam-malam mau numpang ngenet, eh masih banyak aja tuh orang-orang. “Praksus besok Mas sama Pak Prof”. Buset praksus. Jaman kapan itu praksus alias praktikum khusus. Kamu yang dari jutusan lain mungkin belum pernah kan praktikum, tapi bahan dan cara kerjanya disuruh bikin dan di list sendiri? Itu lebih susah dibanding kalo udah ada bahan dan cara kerjanya. Sueerr..

25122011179

Kurus Juga

 

Kurus Banget Nih Bocah

Momen-momen ospek jurusan. “Woi, lelet semua jalannya. Cepet dikit kenapa”. Muka garang para SKK (Sie Komat Kamit) memanasi kuping para maba. Pas pressing seangkatan, ada teman tiba-tiba ambruk, pingsan. Mungkin ga kuat berdiri lama sambil dimarah-marahin. Pas digotong, ia malah mengedipkan mata sambil ketawa kecil ke teman segrupnya, ternyata ia ngibul pingsannya. “Kamu malsu tanda tangan kakak angkatan ya?”. “Enggak kak, saya nggak malsu…”. “Bohong kamu. Ini apa buktinya …”. Puh, kakak ini hebat juga. Ternyata,  seringnya malsu tanda tangan orang pas absen kuliah membuatnya jadi ahli banget bedain mana tanda tangan asli dan palsu. Salut, Kak !!!

Lalu, momen-momen ketika suporteran futsal. Momen ketika kita, wahai angkatan baru, masih sama botaknya, ditantang jurusan sebelah futsal. Gara-garanya cuma ada yang ribut Dota atau sejenisnya, bisa jadi nantangin futsal. Masih anak SMA banget.”Gua tantangin lu semua futsal. Kita selesaiin disana”, mungkin gitu sih kalimat tantangan dari jurusan sebelah, padahal yang ribut cuma oknum tertentu. Jadilah diadain futsal antar 2 maba jurusan yang bertikai.

Sahut menyahut sorakan suporter tim lawan menyambut kami. Kami cuma beranggotakan 12-15 orang. Bahkan beberapa ada yang cuma “nyeker” demi senang-senang malam itu. Walah dalah, suasana seperti Anfield aja. Lagu YNWA yang biasanya berkumandang diganti dengan “Dibantai wae ayo dibantai wae, ora usah dimesake ayo dibantai wae…”. Muka-muka mengerikan tim tuan rumah sedikit menggetarkan kami. Untungnya, ada si Ichsan, bocah ajaib di angkatan kami yang membawa tim tamu unggul 3-0 dalam 7 menit pertama. Soundtrack “Dibantai Wae” pun mereda dari suporter tim tuan rumah. Pembantaian terus berlanjut, bagai Brazil dibantai Jerman di kandangnya sendiri. “it is the real humiliation”, mungkin gitu kalau ada suporter di pinggir lapangan futsal, persis ketika Sami Khedira sudah membwa Jerman unggul 4-0 atas Brazil dalam waktu 5 menit. Suporter2 bersuara garang nan berbaju gelap2 pun kehilanga kata-kata, lalu memilih menonton bola di TV. Meninggalkan si doi, tercabik2 di tengah lapangan. Sakit emang ditinggalkan. Btw, jangan kesinggung ya, ini cuma cerita lama lho haha

Kemudian, momen makrab angkatan. Awal-awalnya ceria. Tapi pas malam, lebih mirip acara jambore atau persami di SD (duh le lama banget ga dengar kata Persami). Malam itu, malam minggu, malam para jomblo bersenang-senang, para jomblo ini malah disidang di depan teman angkatan. Kaya gini, “Kamu, kenapa milih alat ini di pabrik kamu?”. Kok gini sih makrab maba? Oh keliru. Itu pertanyaan pas pendadaran. Maaf-maaf.

IMG_5312

Persami di Merapi

“Kamu kenapa kok diem aja selama ini di angkatan?”, “Kamu kok baik banget sih mau ngajarin kita belajar fisika 1. Kalau ga ada kamu, kita ga bisa apa-apa deh. Makasih banget ya”, “Kamu kenapa sih harus jalan-jalan sendiri sama kelompokmu. Aku kan nungguin jalan bareng sama kamu…”, dll. Kurang lebih, seperti itulah. Satu per satu dari 150 an maba disidang di pinggir pantai Krakal. Suntuk, baru peserta ke 40 aja, udah pada tumbang. Wkwk, no offense gaes…

Lalu, berlanjut ke tragedi hepatitis berdarah di angkatan kami. Singkat cerita, Ro*fiq, salah satu pentolah angkatan yang dituakan, mengalami hepatitis A di tahun kedua kami kuliah. Hebatnya, beliau dengan hati yang hepatitis itu motoran dari Giwangan ke RS Sardjito untuk berobat hepatitis. Ketahanan fisik yang luar biasa. Padahal, itu dekat-dekat dengan musim liga bola yang butuh banyak orang, dimana Ro*fiq ini dikenal sebagai bek yang lugas, gitu sih kata temen-temen. Bola boleh lewat, orang jangan sampai. Bola boleh ga dapet, kaki tetap harus dapet. Begitulah beliau. Pas musim liga bola mulai, eh beliau sudah fit dan siap bermain. Recovery nya cepet banget. Disinilah tragedi dimulai.

Tragedi dimulai di bangku cadangan. “Eh gelas lu mana? Mau minum gua, haus abis main”, kata salah seorang teman kami, sebut saja Ardi. “Itu ambil aja bekas gua”, ujar Ro*fiq. Diambillah gelas itu dan ditenggak sampai habis air di gelas itu. Ardi pun segar kembali dan bisa main lagi. Tapi, esoknya hingga seminggu kemudian, Ardi ga masuk kuliah. Terbaring di rumah sakit. Kata dokter, hepatitis A. Ardi, kalau minum ati-ati lain kalu ya. Otaknya tolong dipakai dulu..

Setelah tragedi hepatitis, tercipta kontrakan koplak di sebuah rumah di Pogung. Pintu kamar di dalamnya dipenuhi bentuk kriminal yang sudah dan akan dilakukan, mulai dri level beginner sampai profesional. Beberapa kriminal yang mahsyur di kalangan kontrakan adalah berani memakai sandal Kajur tanpa ijin beliau saat selesai sholat di Mustek, makan nasi di lantai, motoran di Pogung dengan tanpa atasan baju, dan berbagai tindak kriminal lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu, mengingat penuhnya pintu itu dengan coretan.

10608719_10201757108529768_4747226202555287158_o

Lalu sehabis itu, muncullah masa-masa sibuk mulai KKN, penelitian, KP dan tugas akhir. Tentang penelitian, seorang kawan kami, sebut saja Maul, sering mengabaikan saran dari Safety Officer. “Ini HCl fasenya apa Mas?”, “HCl cair, Pak. “Keluar kamu…”, percakapan singkat padat jelas ketika Maul lagi Risk Assesment. Selesai itu, belum selesai. Beliau harus berjibaku dengan bahan-bahan berbahaya di lab, semacam NaOH, HCl, dan lain-lain. Dengan penuh keberanian, dengan alasan kepanasan, Maul melakukan penelitian dengan bahan-bahan itu dengan membuka baju. Untung masih pakai celana. Katanya biar lebih sejuk. Sayang, foto beliau sudah dihapus demi menjaga akreditasi internasional jurusan ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Lalu, saat kulker alias kuliah kerja. Kami satu angkatan pergi ke beberapa pabrik ditemani beberapa dosen untuk mengetahui langsung cara kerja pabrik tersebut. Mulai Petrokimia Gresik, Unilever Surabaya, sampai Campina. Beuh, apalagi di Unilever, tiap orang dapat sabun gratis katanya. Udah kayak bagi-bagi sembako aja. Tapi, maaf, saya pribadi ga ikut kulker. Bukan apatis, tapi bener-bener ga ada uang waktu itu, haha. Pas gada uang, ndilalah ada tawaran main Teknisiade cabang catur. Emas deh.. (ini bukan sombong, ini menceritakan kalau di balik tidak ikutnya seseorang di sebuah event kampus, bisa jadi ia mengejar prestasi di bidang lain. Wkwkk..)

11402766_1031927453491638_7247092514318887353_o

Melaka Dulu Sebelum Dibantai Dosen..

Lalu, ada tragedi pendadaran. Yang sudah ngumpul naskah pendadaran mulai bulan Agustus sampai September belum dapat jadwal pendadaran. Jadwal pendadaran yang ditunggu tunggu belum keluar sampai awal Oktober. Saya, ngumpulnya telat, sekitar tanggal 30 September. Kalo yang sebelumnya belum, apalagi saya ini, paling November baru didadar. Tapi, dengan power Pak Mardi, semua bisa berubah. Saya didadar tanggal 5 Oktober, cuma beda seminggu. Lah yang sebelumnya belum dapat, saya yang terakhir ngumpul malah duluan? Muncullah teori konspirasi di jurusan melibatkan berbagai pihak, mulai mahasiswa dan dosen dari berbagai pihak, termasuk dari mahasiswa sayap kanan maupun kiri. Wkwkk. Lebih cepat keluar jadwalnya, lebih cepat dibantai dosen. Dibantai war ayo dibantai wae, mungkin begitu kata hati dosen penguji waktu itu. Haha..

Itu mungkin seklumit dari begitu banyaknya cerita di kampus ini. Terlalu banyak yang harus dikenang, bukan diulang. Terpampangnya nama saya 2 kali di web wisuda kampus menunjukkan kalau udah disuruh keluar dari kampus. “Ini bocah kemana ya udah 2 kali namanya ada di web, tapi gak wisuda-wisuda?”, gerutu orang fakultas mungkin di 2 periode wisuda kemarin. Ada masalah di jurusan, bu, mohon maaf haha. Insya Allah, saat nama ini terpampang ketiga kalinya di web wisuda, bapak ibu di fakultas akan terlihat lega. Maka, cerita kampus manakah yang kau dustakan?

 

 

 

 

 

Jatuh Sakit

Kemarin adalah hari dimana badan saya lemas. Kecapekan gegara banyak aktivitas disana sini. Banyak mondar mandir ke tempat yang berjauhan. Makan tetap terjaga, tapi rasanya kemarin tubuh ini menyerah menghadapi kesibukan kesana kemari.

Tubuh terasa lemas mulai jam 5 sore ketika akan pulang dari kampus. Lalu, entah mengapa, tubuh mulai kehilangan tenaga dan suhu tubuh meninggi. Ini pasti efek kecapekan seperti biasanya. Kesibukan kuliah ditambah bisnis membuat tenaga ini kadang habis.

Ketika sakit itu, baru diri ini sadar. Betapa nikmatnya sehat itu. Tubuh kita suhunya naik 2 derajat Celcius saja sudah membuat tubuh kita kehilangan tenaga. Sama seperti global warming. Suhu dunia naik 2 derajat Celcius aja udah bikin gerah sedunia. Betapa mahal nikmat sehat itu. Bukankah kita rela menghabiskan berapapun uang untuk kesehatan kita?

100_3630

Saya jadi ingat kata-kata ibu supaya makan yang berkuah dan minum yang hangat. Jangan minum es atau makanan berlemak macam gorengan. Terbukti, malam kemarin aku diantar si Ucup, temen sekontrakkan yang super baik. Ke sop ayam Pak Nanto, tempat favorit makan sop pokoknya.

Suhu tubuh sudah normal hari ini. Semua berkat Allah yang menyembuhkan panas semalam. Banyak-banyak bersyukur pokoknya deh mulai sekarang soal sehatmu. Kamu ga bisa kentut aja, aku yakin orang tuamu rela mengeluarkan uang 10 juta demi kamu bisa kentut doang.

Salam hidup sehat !!!

Yang Kau Sebut Dalam Doa Itu Ternyata….

Hari ini hari yang spesial. Aku diundang ke pernikahan kakak kelas saya, walau gak akrab banget sih.. Mbaknya dulu pernah satu kepengurusan. Yang Mas nya sering ketemu futsal sama grup . Jadi, lengkap ya. Acaranya lumayan lah ya tempatnya, jauh banget. Harus segera sebelum acara selesai.

Aku masuk bersama rombongan  mendatangi pesta pernikahan beliau berdua (berasa tua banget mereka). Lalu, seperti biasa, ada kado kecil dari kami yang cuma anak kos ini untuk mereka berdua. Patungan untuk beli bed cover yang buat kami lumayan mewah. Ruangan itu penuh dengan tamu undangan, dan tentunya hidangan ala manten baru. Luar biasa suasananya. Jadi pengen hahaha.

Foto-foto bersama pengantin pun menjadi hal yang wajib dilakukan. Bahkan sampai-sampai ada yang membawa jersey futsalmya. Luar biasa, segitunya. Begitu turun dari panggung, muncullah sesosok suara..

“Hilmi….”, teriaknya kencang sekali. Rasanya aku sudah lama tak mendengar suara ini.

“Ah, kamu…”, balasku sambil senyum. Kamu itu yang kudoakan selama ini. Ternyata Allah pisahkan kita 4 tahun, dan kita dipertemukan di tempat ini. Seakan doa-doa selama ini terkabul.

327c2d1e25a54e7eeb015ffd5f7252c4

“Kapan ke Jogja?”, tanyaku antusias, melihat gadis pujaan tak disangka bertemu di tempat seperti ini, bawa keluarganya lagi. Kusapa bapak ibunya, sampai adiknya sekalian.

“Ya kan aku teman pengantin. Eh Mi, bisa minta fotoin gak? Pake HP ku ini”, pintanya langsung dibukain menu kamera segala. Ah, kamu. Minta lebih pun aku siap

“Kamu naik aja sono. Udah antri noh. Gimana kabarnya disana …..”, sambil basa basi ala anak kos dengan gadis pujaan yang lama tak bertemu. Lumayan basa basi 5 menit sebelum foto-foto.

Dia terlihat bahagia. Semakin terlihat shalihah dan manis, namun agak gendut, mungkin gegara kerjaannya sekarang jadi tambah males gerak. Foto-foto pun menjadi saksi bisu pertemuanku denganmu pertama kali. Entah aku merasa bersemangat. Kalau lelaki jatuh cinta, biasanya badannya bergetar. Aku tidak. Mungkin terlalu sering sebut menyebut namamu membuatku terbiasa denganmu.

Foto-foto pun selesai, dan menu kamera kututup sebelum kukembalikan. Dan, muncul sesosok pria bersamanya dengannya di wallpaper HP nya, di banyak momen. Ulang tahun, jalan-jalan, di restoran, dan lain-lain. Ya Allah, begitu lembut kau berikan jawaban atas doa-doaku selama ini. Apakah itu saudara laki-lakinya? Tentu tidak. Dia adalah anak pertama dan adiknya masih kecil-kecil.

Pertemuan pertama setelah 4 tahun, senang, namun berubah menjadi menusuk hati dengan lembut. Ya Allah, kau beri jawaban selembut ini atas doa-doaku. Kau beri jawaban selembut tumor menghabisi tubuh manusia. Dari luar tak kelihatan sakit, tapi di dalam, perih. Tapi, apa yang bisa kuperbuat. Aku sudah keep contact denganmu, walau tak intens seperti pacar. Bukankah itu yang selalu kau hindari? Aku sangat paham dirimu yang begitu menjaga dari hal-hal seperti itu.

43sujud_siluet

Dulu kamu begitu, sepertinya begitu menjaga. Tapi, foto tadi membubarkan segalanya. Pacaran? 99% pasti benar. Ah, mungkin itu cuma perasaan saja. Kutegarkan hati ini, kukembangkan senyum di bibir, kutampakkan keramahan bagaikan sahabat yang tak jumpa lama sekali…

“Kamu kegiatannya apa sekarang?”, sapanya, sambil kukembalikan HP nya.

“Ah, aku lagi bangun perusahaan sendiri. Setelah kemarin konveksi baju, sekarang berkembang ke web developer. Ya, masih ngurus-ngurus ijin usaha ini”, basa basiku sambil tetap bersikap hangat, bagai sahabat, tidak lebih.

“Ah, iya iya. Kamu pasti bisa. Oh iya aku pulang dulu ya. Cuma mampir karena juga liburan ini..”, pamitnya. Waw, secepat ini. Baru 10 menit kami bertemu setelah 4 tahun. 4 tahun aku mendoakannya, lalu dibalas dengan 10 menit yang singkat, dan entah bagaimana.

“Kamu kapan nyusul mereka?”, tanyaku penasaran, sekaligus konfirmasi secara tidak langsung tentang foto itu.

“Oh iya lupa aku. Juli ya kau harus dateng di Semarang. Tunggu ya undangannya pasti kukirim. Awas kamu gak datang ya”, katanya bersemangat dan hangat seperti seorang sahabat, sambil tertawa.

“Ah, iya aku tunggu kabarnya. Ah, aku duluan ya gabung anak-anak lain”, pamitku, sambil kulihat dia untuk terakhir kalinya, mungkin terakhir sebelum aku mendatangi resepsi pernikahannya nanti, di Juli yang mendung.

Empat tahun. Aku mengira dia adalah wanita yang begitu menjaga. Kamu sudah begitu terkenal di kalangan lelaki dengan sifat shalihah nan rupawanmu. Begitu menjaga. Tapi, foto tadi. Ah sudahlah. Mungkin itu baru seminggu, mungkin juga lebih. Wanita yang begitu menjaga, ternyata mungkin sempat pacaran kemana-mana juga walau singkat, sebelum pernikahan. Ada tulisan “Sayang-sayang bla bla …” pula di foto tadi, hahaha. Sedikit kaget dengan perubahan itu. Tapi, syukurlah kau sudah dilamar.

Tegarlah wahai hati. Teruslah berdoa wahai bibir. Teruslah melangkah wahai kaki. Teruslah merangkak naik ke puncak, wahai tangan. Tegakkan dirimu wahai kepala. Empat tahun doamu terkabul untuk bertemu, namun tidak untuk meminangnya. Sebenarnya, beberapa hari sebelum hari ini ada firasat bakal ketemu, dan benar terjadi. Ah, firasat, kau tak pernah salah. Tapi perasaan, kadang kau kadang salah.

Ah, Allah itu Maha Romantis. Ia menusuk hatinya hambaNya yang lemah ini dengan lembut. Ia mengajarkan kalau doamu pasti terkabul, dengan cara lain. Bukankah yang kupinta selama ini yang benar-benar menjaga sesuai syariatMu? Ya, Kau Maha Benar, Allah. Aku memintamu itu. Apa terlalu sempurna yang kuminta? Entah. Tapi, aku juga meminta nama, memohon nama. Tapi, Engkau Maha Tahu. Mungkin nama itu cuma sedikit keluar, sedikit sekali, dari apa yang ia dengungkan dulu di awal kuliah untuk benar-benar menjaga.

Engkau yang Maha Tahu hakikat doa ini. Engkau benar, mungkin ada nama lain yang lebih sesuai. Mungkin nama yang selama ini kuminta, ternyata ia sendiri yang mengubah prinsipnya. Aku tak menyalahkan dia, aku terlalu berprasangka. Mungkin saja, itu foto waktu jalan-jalan dengan teman lainnya, lalu dicrop karena mungkin berkesan. Itu sangat mungkin. Jangan menjudge yang tidak-tidak, Hilmi. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya selain menyebut namanya terus.

Undangannya hanya tinggal menungu waktu. Peluangku sudah tertutup. Tapi, disitulah misteri Allah makin asyik untuk dijalani. Bukankah Dia selalu mengabulkan doa hambaNya? Tentu dengan caraNya sendiri. Maka, ijinkanlah aku, malam ini, atau mungkin sepertiga malam nanti, menyebut namamu untuk terakhir kalinya, bukan untuk memintamu lagi seperti malam-malam sebelumnya. Aku doakan kamu bahagia dengan dirinya.

jodoh-itu-pasti

Mungkin ini indahnya cinta tanpa pacaran. Kalau jodoh, kamu pasti bahagia. Kalau bukan jodoh, kamu pasti bahagia mendoakannya. Selamat. Kalau saja, aku tak melihat foto itu, yakinlah, aku akan langsung berbicara ke ayah ibumu tadi, langsung di tempat, tanpa basa basi. Tapi, Allah mungkin menyuruh diri ini lebih berbenah lagi, mengumpukan ilmu dan uang yang lebih banyak.

Mungkin, hanya lewat doa saja kita bisa saling berinteraksi setelah ini. Selamat atas menjelang menempuh hidup barumu. Aku tak kecewa, hahaha. Hanya sedikit kaget dengan perubahan rencana dari Allah, sebaik-baik perencana hidup, yang datang mendadak, di tempat nikahan pula.

Maafkan kalau malam ini adalah malam terakhir aku menyebut namamu, karena mungkin setelah malam ini, aku akan fokus mendoakan nama-nama lainnya. Doaku terakhir kali untukmu malam ini, barakallahulak wa baraka ‘alaik wa jama’a bainakuma fii khoir…

 

Perlukah Pindah Lain Hati?

Hari ini saya terbangun lagi, Alhamdulillah. Pasokan udara gratis dari Sang Pencipta sangat lancar, tanpa hambatan. Aliran darah ke seluruh tubuh juga lancar, tak terhambat oleh hal-hal semacam kolestrol dan lemak-lemak jahat lainnya. Kelopak mata pun bisa berkedip ratusan kali tiap jam. Andaikan kelopak ini susah berkedip, betapa susahnya hidup saya hari ini.

Dengan semangat yang membara, saya coba merangkai kembali mimpi-mimpi saya. Kantor sekaligus tempat tinggal saya yang baru saya tempeli dengan papan yang berisi target-target proyek yang ingin dikejar dan diselesaikan. Lumayan banyak untuk bulan Mei ini. Tapi, entahlah, sudah pertengahan Mei, baru 1 yang sudah deal dari 10 kemungkinan. Sisanya, masih nyaris deal dan menunggu. Baru 10% dari target yang sudah tercapai.

Dengan baru 10% dari target yang tercapai, saya jadi berpikir lagi apakah bisnis ini layak untuk diteruskan? Saya tahu konveksi baju di negeri ini banyak, bahkan angkanya bisa mencapai jutaan. Proposal ke instansi-instansi, pendekatan via media sosial yang masif, pendekatan personal, dan berbagai cara promosi sudah dilakukan. Tapi rasanya, selama setahun ini, hasilnya belum menggembirakan. Untuk makan sehari-hari, saya rasa cukup. Namun, kebutuhan lain juga perlu. Bahkan, sebagaimana mahasiswa lainnya, pernikahan menjadi hal yang ditunggu-tunggu.

“NIkah muda itu jangan mau enaknya doang”, begitu kata dosen saya, Pak Imam. Iya bener banget sih bapaknya. Jangan mau enaknya doang. Itulah yang menjadi pikiran diri ini selama beberapa hari ini. Setelah dihitung-hitung dengan perhitungan serba kasar dan sederhana, pernikahan yang sederhana, dengan asumsi si cewek tidak minta aneh-aneh untuk mahar dan pesta pernikahannya, minimal butuh 10 juta untuk memulai hidup baru. 6 juta untuk kontrakan kecil selama setahun di Jogja, 4 juta untuk biaya pernikahan sederhana dan mas kawin. Itu ukuran minimal menurut logika manusia yang tidak sempurna ini, karena saya yakin hitung-hitungan Allah lebih indah.

Perputaran uang yang lambat setiap bulan membuat saya bepikir ulang, haruskah diri ini pindah ke lain hati? Haruskah diri ini pindah ke lain hati demi menjemput hati yang menunggu? Saya tahu saya masih dalam tahap start up, begitu sih kata motivator ulung. Namun, sepertinya terobosan-terobosan di atas belum berbuah. Perlu terobosan lagi, ataukah perlu pindah ke lain hati?

Hidup super hemat pun sudah mulai berjalan lagi. Makan nasi sekali sehari menjadi pilihan, huhu, semua  demi kamu. Biaya makan saya selama 3 hari terakhir total hanya sekitar 25-30 ribu. Semua demi penghematan. Namun, apa iya harus seperti ini terus? Saya jujur menikmatinya sih, tapi apa iya  kamu nanti juga menikmatinya nanti? Hahaha. Yakinlah usaha sampai. Perputaran uang yang sangat lambat membuat saya berpikir lagi. Kalau kata Prof Wahyudi, dimana beliau adalah Teknik Kimia itu sendiri, profit yang besar belum tentu menarik. Profitnya 10 juta/hari, tapi kalau itu untuk perusahaan seperti Pertamina, ya bangkrut. Profitnya 1 M, tapi baru cair setelah 10 tahun, lebih gak menarik lagi.

Ini bukan curhat atau keluhan. Ada  1-5 alasan untuk mengeluh hari ini, tapi saya masih punya 1000 alasan untuk bersyukur hari ini. Ini hanya catatan perjalanan hidup yang sedang saya nikmati saat ini. Saya yakin catatan ini akan segera menjadi sejarah bagi saya dan akan membacanya sambil tertawa bersamamu. YAKUSA, Yakin Usaha Sampai.

Cerita Susah Pengusaha

Mungkin kita sudah sering melihat di film0fil berbau kewirausahaan dimana seorang anak muda yang ingin memiliki perusahaan sendiri harus jatuh bangun membangun mimpi-mimpinya itu. Mimpi untuk bebas secara finansisal ternyata tak semudah di atas kertas. Lihatlah film Billionare, Top Itthipat dari Thaillad. Saya yakin kamu pasti sudah pernah nonton filmnya. Banyak sekali hal yang kurang mengenakkan yang ia lakukan, mulai menjual mobilnya sampai putus dengan pacarnya.

Sebagai pebisnis kelas pemula saya juga beberapa kali terpaksa melakukan hal ekstrim. Teman-teman saya yang juga berminat membangun usaha sendiri juga punya cerita-cerita ekstrim di awal-awalnya membangun usaha. Mungkin saya akan mengutip 3 hal ekstrim saja yang berasal dari bermacam-macam orang, dan dijamin, ini pengalaman nyata.

  1. Makan Porsi Setengah

Makan porsi setengah dari biasanya bukan perkara gampang. Makan porsi setengah yang dilakukan teman saya ini ekstrim. Satu piring untuk berdua. Benar-benar menekan biaya, tapi juga membuat perut cepat lapar lagi. Pernah teman saya ini makan makan cepat saji, nasi, ayam goring, dan teh. Makanan seporsi ia makan berdua dengan teman bisnisnya itu. Edan tenan. Saya Cuma geleng-geleng dengar ceritanya begitu. Asumsi harga seporsi makanan itu 7000, dengan membagi 2, masing-masing hanya keluar 3500. Hal itu masih dilakukan sampai sekarang demi memperbanyak tabungan. Luar biasa kan?

  1. Ambil Barang Tengah Malam dan Hujan

053704900_1421744077-hujan

Hal ini pernah saya lakukan sekitar setahun lalu. Ketika itu, ada pelanggan yang minta barangnya diambil besok pagi. Dan mintanya malam-malam, jam 10 malam. Padahal barang pesanannya masih ada di tempat teman saya yang rumahnya lumayan jauh, sekitar 15 km dari tempat tinggal saya. Kondisi di luar mendung setengah hujan. Kalau tidak diambil, besok pagi pasti telat. Kalau diambil, di luar dingin dan hujan. Dingin dan basah bisa menjadi sumber penyakit kalau tidak ditangani serius, seperti paru-paru basah.

Apa boleh buat, saya harus melakukannya demi pelanggan. Jam 10 lebih saya pun berangkat dengan motor pelan-pelan sambil memakai mantel, setelah sampai, ambil barang, balik kos. Hujan tambah deras. Dengan beban berat di belakang, ditambah dingin dan hujan, tengah malam lagi, barang ini harus sampai di kosan malam itu juga, bagaimanapun caranya. Benar-benar malam yang gila buat saya. Pagi sampai sore sudah kuliah berat, malam masih harus kerja rodi, hehe.

  1. Susu Jatuh di Tengah Jalan

Hal ini dialami oleh teman saya yang memiliki bisnis susu pasteurisasi. Ia mengambil susu segar dari Cangkringan, lereng Gunung Merapi untuk diolah lebih lanjut. Ia membawanya dengan sepeda motor. Setiap hari, ia membawa sekitar 40 L susu, atau sekitar 4 dirigen air ukuran besar. Suatu saat, ketika membawa susu, teman saya ini agak ngantuk dan dirigen susu yang ia bawa terlepas dari genggamannya. Dari 4 dirigen, 3 dirigen habis. Sisa 1 dirigen masih ada sisa sekitar setengahnya. Benar-benar mental seorang pengusaha diuji di saat-saat seperti itu. Kerugiannya bisa dihitung. Dengan harga 5500/liter, silahkan hitung kerugian hari itu.

Pernah juga, ia membawa susu yang sudah diolah dan siap dipasarkan. Ketika sudah diberikan ke konsumen, susunya malah basi. Wah itu benar-benar menjadi ujian bagaimana menjelaskan kepada pelanggan bagaimana susunya bisa basi. Yang pasti, teman saya terpaksa menggratiskan susu itu, padahal jumlahnya banyak loh, sekitar 50 cup.

Kamu punya cerita susah pas ngejalanin bisnis? Share aja boleh banget loh..

Pantang Minta Orang Tua Lagi, Bro

Mungkin prinsip yang kawanku ini pegang. Cerita ini kuawali dari perjumpaanku dengan kawan dekat baruku ini. Sebut saja namanya Udin. Udin ini baru kukenal sekitar 2 bulan lalu karena suatu urusan. Dengan makin bertambahnya komunikasi antara kami berdua, aku sedikit demi sedikit mengetahui kehidupan pribadinya. Aku mengumpulkan informasi ini dari dirinya, teman dekatnya, sampai teman-teman sejurusannya yang kukenal. Ia adalah seorang pejuang sejati.

Udin adalah sosok yang luar biasa menurutku. Untuk ukuran jaman sekarang, dia termasuk yang sangat jarang. Dia lahir di keluarga sederhana di sebuah kota di Jawa Tengah ini. Dia masuk kuliah d UGM Yogyakarta dengan mendapat beasiswa BIDIK MISI. Beasiswa itu tentu sangat membantu dirinya dimana kondisi orang tuanya yang merupakan pensiunan guru di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Dia sama denganku, angkatan 2011. Artinya, sudah agak molor masa studinya (kalau Teknik, aplagi nyambi bisnis, afdholnya 5 tahun sih, hahaha..)

wave-goodbye-to-the-worries-of-earning-extra-money-online

Sosoknya yang luar biasa dimulai dari kehidupannya pasca semester 8. Beasiswa BIDIK MISI nya otomatis distop karena beasiswa BIDIK MISI hanya berlaku untuk  semester saja. Jika lebih adari 8 semester, maka ia harus bayar sendiri. Udin termasuk yang agak molor kuliahnya. Maka, ia pun bekerja di sebuah bisnis start up teman saya sebagai pegawai. Udin saking gak mau merepotkan kedua orang tuanya, rela bekerja lebih keras demi menghidupi dirinya sendiri. Demi uang kuliah, ia rela bekerja. Yang aku tahu, dia bekerja sangat keras. Bahkan, tengah malam pun masih kerja kadang-kadang.

Hal lain yang membuatku salut adalah ia rela tidur di kantor bisnis temanku demi menghemat biaya hidup. Dari sini, mungkin ceritanya agak berbeda. Udin berhutang uang cukup banyak kepada investor bisnis tempat ia bekerja untuk membeli motor demi kelancaran transportasinya ke kampus dan kantor. Aku tidak bias membayangkan berapa bulan gaji yang harus ia korbankan untuk membayar cicilan utang itu. Aku tahu dia bekerja sangat keras karena hamper setiap hari aku main ke kantornya tempat ia bekerja.

Perjuangannya bukan cuma itu. Ia juga memiliki keluarga yang perlu dibantu di kampong halamannya. Dari teman dekatnya aku tahu, ia harus mampu membagi gajinya untuk membayar cicilan motor, biaya hidupnya, dan untuk keluarganya. Ia benar-benar ingin mandiri secara finansial. Tak sampai di situ, ia juga masih punya tanggungan skripsi di jurusannya. Kerja, orang tua dan kampus, tiga dimensi kehidupan yang masih ia perjuangkan sekarang.

mortar-board_zps62a1c49e

Kadang aku berpikir bagaimana caranya mengatur gajinya untuk ketiga hal di atas? Sedikit demi sedikit, aku tahu lah gajinya berapa di kantor itu. Karena masih start up, gajinya masih sedikit di bawah UMR. Tapi, untuk ukuran jomblo, lumayan sih. Namun, tetap saja ia harus membagi penghasilannya untuk ketiga hal di atas. Kadang, aku ingin membantunya melunasi hutang-hutangnya. Apalagi sekarang aku tahu, kondisi tempat ia bekerja sedang kurang bagus. Aku takut kalau gajinya terlambat atau terpotong. Serba rempong di bayanganku.

Ketika banyak teman-temanku disana hidup serba kecukupan, lulus tepat waktu, bekerja dengan gaji lumayan, dan lain-lain, ternyata masih ada temanku yang harus berjuang seperti itu. Ia bekerja keras demi dirinya sendiri. Ia bekerja untuk menghindari meminta-minta kepada orang tua dan keluarganya. Kadang-kadang, seperti sore kemarin ketika kutanya sudah makan belum malam ini, dia bilang belum. Katanya ia hanya makan nasi sekali sehari demi hemat. Ah, hati mana yang tidak trenyuh mendengar perkataan seperti itu. Ketika kita bisa enak berpikir nanti makan apa, sementara si Udin berpikirnya bisa makan gak ya nanti. Bahkan, pernah suatu hari Udin gka makan nasi sama sekali. Hanya roti-roti 1000 an dan air putih  selama sehari. Benar-benar perjuangan kawan.

Ketika kamu sudah punya penghasilan lumayan dari perusahaan-perusahaan besar atau dari bisnismu, teman kita masih ada yang harus terpaksa makan nasi sehari sekali sampai ngutang untuk beli motor demi kehidupannya. Kalo dipikir-pikir, sebelum utangnya lunas, Udin pasti belum boleh pindah sama atasannya. Hidupmu penuh perjuangan, Udin. Sebagai kawan baikmu, aku hanya bias mendoakanmu. Kalau ada rezeki lebih, insya Allah akan kubantu melunasi hutangmu itu.

Ampuni hambaMu ini yang sedikit sekali bersyukur. Entah harus malu atau tidak, ketika hambaMu ini terus lupa untuk bersyukur padaMu, Engkau masih terus saja memberi nikmat pada diri ini.

Social Venture Challenge

Akhirnya, semangat kompetisi itu bangkit lagi. Semangat berkompetisi di akhir masa kuliah. Kali ini dengan judul Social Venture Challenge 2016. Lomba ini membututuhkan kecerdasan, sekaligus keberanian untuk mengkutinya. Kenapa? Ini dia alasannya.

svc

  1. Harus DIlakukan Kalau Menang

Lomba ini mengharuskan kita untuk melakukan hasil presentasi kita di depan dewan juri. Dengan tidak adanya batasan umur, pekerjaan, gender dan lain-lain, siapapun yang memiliki ide brilian bisa masuk ke kompetisi ini. Dengan adanya keharusan untuk dilakukan,maka paa peserta harus mampu menunjukkan kalau ide mereka adalah yang terbaik.

2. Harus Punya Akun Bank 

Ini yang paling repot. Kita harus punya kan bak resmi untuk perusahaan kita yang akan kita buat. Kalau menurut hukum di Indonesia, maka perusahaan itu harus punya surat ijin usaha dulu baru bisa bikin akun banksendiri atas nama perusahaan itu. Hmm, kebayang juga bagaimana rempongnya mengurus kesana sini. Akun bank itu juga berfungsi untuk sarana transfer dari panitia ke para pemenang lomba.

3. Ada Mentoring Langsung

Adanya mentoring alias pengawasan langsung dari panitia membuat para peserta harus mampu mengolah dan mempertanggungjawabkan dana yang telah digunakan untuk membangun unit bisnis yang kita bangun. Laporan keuangan menjadi perhatian utama dala hal mentoring ini. Uang benar-benar harus diolah dengan benar untuk membangun bisnis itu. Dengan adanya entoring, maka kemungkinan uang itu disalahgunakan bisa dikurangi.

4. Hadiahnya Gede

Kalau melihat dari tahun lalu, hadiah paling besar adalah SGD 100K (Rp 990 juta). Lalu menyusul SGD 75k (Rp 740 juta), SGD 50K (490 juta), SGD 30K (Rp 280 juta) dan Rp 25K (Rp 230 juta). Tergiur belum? KAlau aya ih sudah tergiur dengan hadiah segede itu. Apalagi presentasi akan dilkukan di Singapura yag tentu dihadiri banyak orang dari  berbagai bidang, mulai pendidikan, pakar industri, peneliti, dan lain-lain.

Sampai jumpa di National University of Singapore pada 18-22 Agustus 2016