Riau Notes

Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini berada di Riau, yang berarti, suatu saat pasti saya akan kembali lagi ke sini. Sebuah belahan dunia baru, belahan tanah Indonesia lain yang Allah ijinkan kaki ini untuk menjejaknya. Melebarkan pandangan, merendahkan hati, ternyata masih banyak di luar sana orang yang butuh diambil pelajaran darinya.

Semenjak menjejakkan kaki di Riau, berbagai kemudahan begitu banyak Allah berikan. Transportasi, makanan, hingga jaringan-jaringan baru yang entah datang begitu saja dengan mudahnya.. Sebuah ajang internasional ketiga dalam waktu 2 tahun yang seakan menjadi pelengkap mimpi yang tertulis setahun lalu, di saat saya sadar, setelah hampir 4 tahun kuliah, belum pernah saya ikut ajang internasional.

Sejak di bandara SSK II Pekanbaru, sudah ada mobil yang menjemput langsung ke bandara. Memudahkan begitu banyak urusan. Kurir-kurir kebaikan Sedekah Rombongan Pekanbaru begitu baik mengantarkan saya kesana kemari, seakan saya ini tamu yang istimewa. Baru pertama saya ke Pekanbaru, begitu luar biasa sambutannya. Terima kasih teman-teman SR Pekanbaru atas bantuannya.

Belum cukup, ada juga orang-orang SR yang punya latar belakang Jogja. Jogja is never ending memory, untuk siapapun yang pernah tinggal di Jogja. Jadilah saya diajak ngopi-ngopi dan makan di Pekanbaru ini, dan semua dibayarin. Latar belakang sama-sama pernah hidup di Jogja membuat ikatan ini semakin kuat. Cerita-cerita angkringan, jalan-jalan di Jogja, senyum indahnya orang Jogja, membuat jiwa ini tidak kesepian di tanah orang.

Ketika mengikuti acara RIYS (Riau International Youth Summit) 2016, begitu banyak kemudahan yang Allah berikan lewat kerja keras panitia. Semua kebutuhan para peserta, tersedia dengan sempurna, tidak ada yang terlewat. Transportasi, wifi, hotel, dan lain-lain, sudah diakomodasi dengan baik. Diskusi dan dialog dengan bahasa Inggris berlangsung dengan lancar walau dengan berbagai perbedaan pendapat. Ribuan foto  tercipta di acara ini. Muchas Gracias, kakak-kakak panitia !!!

Istana Siak Sri Indrapura menjadi puncak acara  jalan-jalan. Istana megah peninggalan Sultan Syarif Kasim XII yang begitu megah. Istana yang dibangun begitu penuh perhitungan, penuh kemewahan, dan penuh keagungan. Istana yang berada di dekat Sungai Siak, sungai terdalam di Indonesia ini, memberikan kepuasaan yang tiada tara.

Sampai suatu saat, malam ini. Entah semua terjadi begitu cepat. Acara perpisahan para peserta yang seharusnya berlangsung dengan ramai dan lancar, entah mengapa dikacaukan oleh beberapa oknum. Oknum ini memaksa acara perpisahan ini dilakukan di sebuah tempat, yang tentu takkan saya sebutkan. Acara yang seharusnya di hotel, dipaksa pindah ke sebuah lapangan yang disulap menjadi pasar malam. Sungguh bukan tempat yang pantas untuk para peserta, apalagi yang berasal dari Indonesia.

Marah? Kecewa? ya, tentu ….

Sebuah acara internasional yang sudah dikelola, dihancurkan sehancur-hancurnya oleh sebuah oknum yang entah kenapa, mungkin begitu ingin memperbaiki citranya di depan masyarakat. Bayangkan, hasil diskusi berupa presentasi berbahasa Inggris, disajikan di para pedagang kaki lima wwwqwwq. Bukan meremahkan para pedagan kaki lima di sana. Cuma, materinya aja kurang tepat dan setelah saya survei sendiri, tanya ke abang-abang PKL, mereka gak ngerti para partisipisan RIYS ini ngomong apa. Gilee banget. Hasil kerja keras yang begitu banyak kemarin, langsung buyar seketika, karena keegoisan sebuah oknum.

Ya ya, ada pertemuan, ada perpisahan. Kenangan dengan para peserta RIYS ini takkan pernah terlupa. Seseorang di RIYS ini juga telah menggetarkan hati ini, haruskan aku terus memperjuangkanmu disana tanpa kepastian?