Bersama Tak Selalu Bersatu (1)

Cerita ini adalah cerita nyata dari seorang teman, namun disamarkan dengan nama samaran agara menjaga privasi. Bagaimana ceritanya? Ini dia ceritanya..

Markesot, seorang mahasiswa populer di kampusnya sudah memasuki tahap akhir, alias tahap wisuda. Markesot juga terkenal memiliki pasangan, yakni Markonah, yang sama-sama populer. Mereka berdua pernah menjadi ketua dan sekretaris himpunan sejak tahun kedua kuliah. Kemana-mana mereka selalu bersama.

Markesot termasuk orang yang romantis menurut Markonah. Sejak mereka jadian sebelum dilantik jadi ketua dan sekretaris himpunan, mereka selalu berdua kemana-mana. Mulai makan, nonton bioskop, sampai ke pasar kaget minggu pagi mereka selalu terlihat bersama. Mereka selalu boncengan motor juga ketika ngampus.

Masa skripsi. Ini berarti sudah tahun ketiga mereka “bersama”. Markesot mulai gundah. Ia sudah sering jalan dengan Markonah. Ke pantai, gunung, danau, dan tempat-tempat hits anak Instagram lain sudah pernah ia jelajahi bersamanya. Ia merasakan kebahagiaan yang sangat. Tapi, hatinya bergetar saat dua hari lalu, Markonah mengatakan sesuatu yang membingungkan hatinya.

“Sot, kita kan udah 3 tahun ini. Kemarin aku ditanyain Mama. Kamu kan sering ke rumahku jemput aku buat main. Kemarin Mama nanya, kapan kamu ke rumah?”, tanya Markonah kalem.

“Maksudnya ke rumah?”, Markesot sedikit terperanjat.

“Yah, kamu kan bentar lagi kerja. Kita udah 3 tahun. Kamu kapan ngelamar aku?”, pinta Markonah kali ini, super serius..

“Ngelamar kamu? Aku belum kepikiran”, jawabnya enteng. Jawaban ini adalah jawaban yang paling tidak disukai para wanita karena mengandung ketidakpastian, karena wanita itu suka yang pasti.

“Terus gimana? Bapakku juga nanyain kamu. Bapakku udah ngijinin kita main-main bareng 3 tahun ini. Tapi, kemarin, Bapakku juga nanyain kamu mau gimana ke depannya”, ucap Markonah, makin serius. Muka Markesot makin pucat.

“Yah, gimana ya. Aku juga belum kerja ini. Masih mau cari duit dulu. Kita kan masih bisa seneng-seneng dulu”, ucap Markesot, memaksakan senyum muncul di wajahnya.

“Seneng-seneng gimana”, bales Markonah cepat. “Yah, kita kan masih bisa jalan bareng kemana gitu sambil aku nyari kerja. Nanti kalau udah cukup duitku, nanti aku janji ngelamar kamu kok”, pungkas Markesot, mengeluarkan jawaban yang ditunggu-tunggu Markonah.

“Kapan kalo boleh tau?”, Markonah udah kayak tukang tagih utang aja dah

“Emm…”, Markesot setengah terdiam. “Mungkin 2 tahun lagi aku bakal ngelamar kamu”, ucapnya spontan, sambil bergumam dalam hati, bisa gak ya 2 tahun lagi.

“Dua tahun? Lama banget itu huuu…”, Markonah mulai setengah nangis. “Kemarin itu aku dimarahin Bapakku soalnya sejak pacaran sama kamu, aku itu jarang bantu ibuku masak, cuci piring, cuci baju. Aku juga kaget itu…”, sesi curhat dimulai. “Bapakku cuma ngasih 2 pilihan, lamar, apa putus disini.”, pungkas Markonah, menghancurkan harapan-harapan Markesot

Mereka saling terdiam. Markesot terdiam berpikir keras kenapa disuruh secepat ini. Markonah juga terdiam, meminta kepastian kepada lelaki yang mengaku cinta kepadanya 3 tahun terakhir ini. Es teh di depan mereka belum habis, masih setengah. Markonah pun bangkit, memcah suasana.

“Aku itu kemarin udah dilamar sama Markisut. Aku masih nggandolin kamu. Tapi ya terserah kamu gimana”, bisiknya, lalu pergi dengan taksi di depan kedai. Cuuss, menghilang dari pandangan Markesot.

Hati Markesot terluka, terluka oleh seorang bernama Markisut. Ya, Markisut..

….. to be continued

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s