Kutuklah Kegelapan, atau Nyalakan Lilin?

Masalah kadang memang terus muncul dalam hidup kita. Hidup tanpa masalah bukan hidup. Masalah selalu menjadi hal yang coba dihindari orang. Padahal, satu masalah selesai, datang masalah satu lagi. Kadang, lebih dari satu malah.

Manusia pada dasarnya suka mengeluh. Mengeluh ketika mengalami kesulitan. Mengeluh ketika kehidupan ini terasa sempit. Mulailah ia mengutuk orang-orang di sekitarnya. “Dasar dia memang menyebalkan. Coba gak ada dia, hidupku pasti gak kayak gini”..”Coba dia begini dulu, pasti endingnya gak gini.. “Coba ngomongnya ke bapak tahun lalu, kan sekarang udah bisa jalan-jalan bareng”. Dan berbagai macam kata-kata kutukan lain.

577598_400761663309371_154265675_n

Izinkan kami berbagi sebuah cerita dari seorang pegawai kantoran biasa. Suatu saat, ia ingin anak satu-satunya memiliki tambang batubara. Karena ia sering mendengar ceramah-ceramah keajaiban sedekah, ia menyedekahkan motor satu-satunya ke sebuah panti asuhan. Gendeng, kan? Gendeng emang. Satu-satunya kendaraan yang ia punya malah ia sumbangkan demi keberhasilan anaknya yang baru lulus SMA. Cercaan cacian mulai mengalir dari sana sini, bahkan dari keluarganya sendiri. Udah hidup pas-pasan, berani banget nyumbangin motor satu-satunya.

Lalu, si anak pun ikut tes perguruan tinggi negeri. Beberapa hari kemudian, namanya tidak tercantum, alias gak diterima. Ia coba kampus favorit lain, tetep ditolak. Ia coba ke kampus swasta, ditolak juga. Stress pun mulai melanda. Di peruntungan terakhir, ia coba di sebuah kampus yang mungkin hanya terdengar namanya di kota itu. Masuklah dia di jurusan pertambangan. Tapi, cercaan dan sinisme dari saudara dekat pun makin kencang. “Tuh kan. Sedekah motor, malah ditolak negeri. Gimana coba..”..”Terlalu percaya ustadz-ustadz itu sih kamu..”. Dan berbagai sinisme lainnya..

Lambat laun ia pun lulus. Lalu, ia bekerja di perusahan tambang. Dengan bekal kesederahanaan dan kejujuran kariernya pun meningkat pesat. Suatu saat, sang pemilik perusahaan menceritakan masalah pribadinya. Ia dan istrinya tidak dikaruniai anak. Umurnya juga sudah renta. Ia berniat meninggalkan perusahaannya ini ke tangan anak itu tadi. Tanpa perlu sogok sana sini, sedekah sang ayah terbalas juga hari itu juga. Memiliki perusahaan tambang tanpa korupsi, kolusi, nepotisme, dan kawan-kawannya.

success

Maka, tak ada alasan kita mengutuk kegelapan, alias mengutuk masalah. Bisa jadi, teman-teman kita itu punya banyak masalah juga. Tapi bedanya dengan kita, mereka tidak mengeluh. Lebih-lebih mengeluh di sosmed. Bisa jadi masalah kita lebih sedikit, tapi mengeluh lebih banyak. Bisa jadi kita ini sebenarnya gak ada kekurangan suatu apapun, tapi masih juga mengeluh karena gak ada kerjaan. Itu kurang syukur namanya.

Maka, mulailah nyalakan lilinmu, dan hentikan mengutuk kegelapanmu. Besarkan nyala lilinmu, kegelapan itu akan pergi dengan sendirinya. Atau, teruskan kutukanmu, kegelapan itu akan semakin pekat. Lilin itu ada di tanganmu, tinggal kau nyalakan, atau kutuk saja.

 

 

Lebaran, Momen Perubahan Anak Muda

Hola, Anak Muda!! Akhirnya saya nulis lagi wkwkk. Setelah Ramadhan kemarin lupa nulis terus hehe. Kali ini temanya, lebaran..

Lebaran alias idul fitri selalu punya cerita sendiri bagi anak-anak muda. Lebaran menjadi ajang kumpul-kumpul dengan sanak saudara yang mungkin sudah setahun gak dikunjungi. Bahkan, mungkin jadi ajang kumpul saudara yang sebelumnya belum pernah ketemu, bahkan tahu namanya saja belum. Momen lebaran inilah yang menjadi momen pas untuk menjalin silaturahim.

Lebaran selalu membuat harga-harga bahan pangan naik. Beras, gula, garam, telur, daging, dan lain-lain pasti mengalami kenaikan harga. Tapi, uniknya, masyarakat tetap pada beli, demi yang namanya LEBARAN !! Harga pangan naik, konsumsi naik, inflasi naik, kolestrol naik, berat badan naik. Semua naik di lebaran ini…

10346537_1018878168137411_609214157693476627_n

Lebaran dan anak muda. Anak muda dengan segudang mimpinya menjadikan lebaran ini sebagai momen perubahan. Ketika sebelum lebaran masih begitu, habis lebaran harus begini. Kalo sebelum lebaran masih ada kurang ini itu, habis lebaran harus ditambal ini ituya. Kalau sebelum lebaran belum sukses, habis lebaran harus lebih sukses. Kalo sebelum lebaran lebaran masih jomblo, habis lebaran, siap-siap jadi jomblo lagi, asal jangan kelamaan..

Lebaran membuat migraasi manusia di Jawa ini unik. Dari barat ke timur. 9 juta penduduk Jakarta bermigrasi ke timur, menyisakan 3 juta penduduk asli Jakarta. Lebaran membuat Jakarta menjadi kota yang nyaman untuk beberapa hari. Bebas macet, polusi berkurang, udara lebih segar, dan banyak kesegaran-kesegaran lainnya yang mungkin hanya setahun sekali dirasakan.

Kembali ke anak muda. Lebaran biasanya menjadi momen dimana si anak muda melihat lingkungannya berubah. Saudara-saudara sepupu sepermainan dulu, sekrang udah nikah, udah punya momongan, udah punya rumah sendiri, udah punya mobil sendiri, udah kerja disana sini, dan lain-lain. Momen lebaran adalah momen motivasi, momen yang membuat seluruh adrenalin anak muda naik untuk menantang dunia, mengubah nasib, mengubah diri sendiri.

jodoh-itu-pasti

Lebaran tanpa keinginan untuk berubah setelahnya seperti mobil dengan body mulus tanpa mesin. Sebagus apapun luarnya, tanpa mesin, ia takkan bisa berpindah kemana pun. Maka, tentukan tujuanmu setelah lebaran ini. Mungkin saya juga termasuk yang lupa menulis kemana tujuan setelah lebaran ini biar gak lupa, walau sudah di ubun-ubun. Tanpa perubahan, lebaran akan terasa hampa. Semoga kita dipertemukan lagi dengan lebaran tahun depan dengan berbagai perubahan.

Mudik lebaran tahun ini pakai bus, semoga tahun depan pakai mobil sendiri
Mudik lebaran tahun ini ga bawa oleh-oleh, semoga tahun depan bisa beli oleh-oleh
Mudik lebaran tahun ini hafalan baru 1 juz, semoga tahun depan bisa 3 juz
Mudik lebaran tahun ini masih SENDIRI, semoga tahun depan gak sendirian lagi

 

Malang, Kampung Mudik
H-40 Wisuda UGM Agustus 2016