Kampus Yang Tak Dirindukan

Kalau kita denger kata kampus, mungkin akan terkenang masa-masa lalu yang entah begitu indah untuk dikenang. Masa kampus adalah masa yang memang untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Ya kali mau teriak “Hidup Mahasiswa Indonesia” terus sampai tua, kapan hidup sama kamunya…

Momen-momen terakhir berstatus mahasiswa di sebuah kampus yang katanya elite mungkin membuat diri ini tertawa sendiri melihat kesibukan adik-adik angkatan di kampus. Malam-malam mau numpang ngenet, eh masih banyak aja tuh orang-orang. “Praksus besok Mas sama Pak Prof”. Buset praksus. Jaman kapan itu praksus alias praktikum khusus. Kamu yang dari jutusan lain mungkin belum pernah kan praktikum, tapi bahan dan cara kerjanya disuruh bikin dan di list sendiri? Itu lebih susah dibanding kalo udah ada bahan dan cara kerjanya. Sueerr..

25122011179

Kurus Juga

 

Kurus Banget Nih Bocah

Momen-momen ospek jurusan. “Woi, lelet semua jalannya. Cepet dikit kenapa”. Muka garang para SKK (Sie Komat Kamit) memanasi kuping para maba. Pas pressing seangkatan, ada teman tiba-tiba ambruk, pingsan. Mungkin ga kuat berdiri lama sambil dimarah-marahin. Pas digotong, ia malah mengedipkan mata sambil ketawa kecil ke teman segrupnya, ternyata ia ngibul pingsannya. “Kamu malsu tanda tangan kakak angkatan ya?”. “Enggak kak, saya nggak malsu…”. “Bohong kamu. Ini apa buktinya …”. Puh, kakak ini hebat juga. Ternyata,  seringnya malsu tanda tangan orang pas absen kuliah membuatnya jadi ahli banget bedain mana tanda tangan asli dan palsu. Salut, Kak !!!

Lalu, momen-momen ketika suporteran futsal. Momen ketika kita, wahai angkatan baru, masih sama botaknya, ditantang jurusan sebelah futsal. Gara-garanya cuma ada yang ribut Dota atau sejenisnya, bisa jadi nantangin futsal. Masih anak SMA banget.”Gua tantangin lu semua futsal. Kita selesaiin disana”, mungkin gitu sih kalimat tantangan dari jurusan sebelah, padahal yang ribut cuma oknum tertentu. Jadilah diadain futsal antar 2 maba jurusan yang bertikai.

Sahut menyahut sorakan suporter tim lawan menyambut kami. Kami cuma beranggotakan 12-15 orang. Bahkan beberapa ada yang cuma “nyeker” demi senang-senang malam itu. Walah dalah, suasana seperti Anfield aja. Lagu YNWA yang biasanya berkumandang diganti dengan “Dibantai wae ayo dibantai wae, ora usah dimesake ayo dibantai wae…”. Muka-muka mengerikan tim tuan rumah sedikit menggetarkan kami. Untungnya, ada si Ichsan, bocah ajaib di angkatan kami yang membawa tim tamu unggul 3-0 dalam 7 menit pertama. Soundtrack “Dibantai Wae” pun mereda dari suporter tim tuan rumah. Pembantaian terus berlanjut, bagai Brazil dibantai Jerman di kandangnya sendiri. “it is the real humiliation”, mungkin gitu kalau ada suporter di pinggir lapangan futsal, persis ketika Sami Khedira sudah membwa Jerman unggul 4-0 atas Brazil dalam waktu 5 menit. Suporter2 bersuara garang nan berbaju gelap2 pun kehilanga kata-kata, lalu memilih menonton bola di TV. Meninggalkan si doi, tercabik2 di tengah lapangan. Sakit emang ditinggalkan. Btw, jangan kesinggung ya, ini cuma cerita lama lho haha

Kemudian, momen makrab angkatan. Awal-awalnya ceria. Tapi pas malam, lebih mirip acara jambore atau persami di SD (duh le lama banget ga dengar kata Persami). Malam itu, malam minggu, malam para jomblo bersenang-senang, para jomblo ini malah disidang di depan teman angkatan. Kaya gini, “Kamu, kenapa milih alat ini di pabrik kamu?”. Kok gini sih makrab maba? Oh keliru. Itu pertanyaan pas pendadaran. Maaf-maaf.

IMG_5312

Persami di Merapi

“Kamu kenapa kok diem aja selama ini di angkatan?”, “Kamu kok baik banget sih mau ngajarin kita belajar fisika 1. Kalau ga ada kamu, kita ga bisa apa-apa deh. Makasih banget ya”, “Kamu kenapa sih harus jalan-jalan sendiri sama kelompokmu. Aku kan nungguin jalan bareng sama kamu…”, dll. Kurang lebih, seperti itulah. Satu per satu dari 150 an maba disidang di pinggir pantai Krakal. Suntuk, baru peserta ke 40 aja, udah pada tumbang. Wkwk, no offense gaes…

Lalu, berlanjut ke tragedi hepatitis berdarah di angkatan kami. Singkat cerita, Ro*fiq, salah satu pentolah angkatan yang dituakan, mengalami hepatitis A di tahun kedua kami kuliah. Hebatnya, beliau dengan hati yang hepatitis itu motoran dari Giwangan ke RS Sardjito untuk berobat hepatitis. Ketahanan fisik yang luar biasa. Padahal, itu dekat-dekat dengan musim liga bola yang butuh banyak orang, dimana Ro*fiq ini dikenal sebagai bek yang lugas, gitu sih kata temen-temen. Bola boleh lewat, orang jangan sampai. Bola boleh ga dapet, kaki tetap harus dapet. Begitulah beliau. Pas musim liga bola mulai, eh beliau sudah fit dan siap bermain. Recovery nya cepet banget. Disinilah tragedi dimulai.

Tragedi dimulai di bangku cadangan. “Eh gelas lu mana? Mau minum gua, haus abis main”, kata salah seorang teman kami, sebut saja Ardi. “Itu ambil aja bekas gua”, ujar Ro*fiq. Diambillah gelas itu dan ditenggak sampai habis air di gelas itu. Ardi pun segar kembali dan bisa main lagi. Tapi, esoknya hingga seminggu kemudian, Ardi ga masuk kuliah. Terbaring di rumah sakit. Kata dokter, hepatitis A. Ardi, kalau minum ati-ati lain kalu ya. Otaknya tolong dipakai dulu..

Setelah tragedi hepatitis, tercipta kontrakan koplak di sebuah rumah di Pogung. Pintu kamar di dalamnya dipenuhi bentuk kriminal yang sudah dan akan dilakukan, mulai dri level beginner sampai profesional. Beberapa kriminal yang mahsyur di kalangan kontrakan adalah berani memakai sandal Kajur tanpa ijin beliau saat selesai sholat di Mustek, makan nasi di lantai, motoran di Pogung dengan tanpa atasan baju, dan berbagai tindak kriminal lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu, mengingat penuhnya pintu itu dengan coretan.

10608719_10201757108529768_4747226202555287158_o

Lalu sehabis itu, muncullah masa-masa sibuk mulai KKN, penelitian, KP dan tugas akhir. Tentang penelitian, seorang kawan kami, sebut saja Maul, sering mengabaikan saran dari Safety Officer. “Ini HCl fasenya apa Mas?”, “HCl cair, Pak. “Keluar kamu…”, percakapan singkat padat jelas ketika Maul lagi Risk Assesment. Selesai itu, belum selesai. Beliau harus berjibaku dengan bahan-bahan berbahaya di lab, semacam NaOH, HCl, dan lain-lain. Dengan penuh keberanian, dengan alasan kepanasan, Maul melakukan penelitian dengan bahan-bahan itu dengan membuka baju. Untung masih pakai celana. Katanya biar lebih sejuk. Sayang, foto beliau sudah dihapus demi menjaga akreditasi internasional jurusan ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Lalu, saat kulker alias kuliah kerja. Kami satu angkatan pergi ke beberapa pabrik ditemani beberapa dosen untuk mengetahui langsung cara kerja pabrik tersebut. Mulai Petrokimia Gresik, Unilever Surabaya, sampai Campina. Beuh, apalagi di Unilever, tiap orang dapat sabun gratis katanya. Udah kayak bagi-bagi sembako aja. Tapi, maaf, saya pribadi ga ikut kulker. Bukan apatis, tapi bener-bener ga ada uang waktu itu, haha. Pas gada uang, ndilalah ada tawaran main Teknisiade cabang catur. Emas deh.. (ini bukan sombong, ini menceritakan kalau di balik tidak ikutnya seseorang di sebuah event kampus, bisa jadi ia mengejar prestasi di bidang lain. Wkwkk..)

11402766_1031927453491638_7247092514318887353_o

Melaka Dulu Sebelum Dibantai Dosen..

Lalu, ada tragedi pendadaran. Yang sudah ngumpul naskah pendadaran mulai bulan Agustus sampai September belum dapat jadwal pendadaran. Jadwal pendadaran yang ditunggu tunggu belum keluar sampai awal Oktober. Saya, ngumpulnya telat, sekitar tanggal 30 September. Kalo yang sebelumnya belum, apalagi saya ini, paling November baru didadar. Tapi, dengan power Pak Mardi, semua bisa berubah. Saya didadar tanggal 5 Oktober, cuma beda seminggu. Lah yang sebelumnya belum dapat, saya yang terakhir ngumpul malah duluan? Muncullah teori konspirasi di jurusan melibatkan berbagai pihak, mulai mahasiswa dan dosen dari berbagai pihak, termasuk dari mahasiswa sayap kanan maupun kiri. Wkwkk. Lebih cepat keluar jadwalnya, lebih cepat dibantai dosen. Dibantai war ayo dibantai wae, mungkin begitu kata hati dosen penguji waktu itu. Haha..

Itu mungkin seklumit dari begitu banyaknya cerita di kampus ini. Terlalu banyak yang harus dikenang, bukan diulang. Terpampangnya nama saya 2 kali di web wisuda kampus menunjukkan kalau udah disuruh keluar dari kampus. “Ini bocah kemana ya udah 2 kali namanya ada di web, tapi gak wisuda-wisuda?”, gerutu orang fakultas mungkin di 2 periode wisuda kemarin. Ada masalah di jurusan, bu, mohon maaf haha. Insya Allah, saat nama ini terpampang ketiga kalinya di web wisuda, bapak ibu di fakultas akan terlihat lega. Maka, cerita kampus manakah yang kau dustakan?

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s