Perlukah Pindah Lain Hati?

Hari ini saya terbangun lagi, Alhamdulillah. Pasokan udara gratis dari Sang Pencipta sangat lancar, tanpa hambatan. Aliran darah ke seluruh tubuh juga lancar, tak terhambat oleh hal-hal semacam kolestrol dan lemak-lemak jahat lainnya. Kelopak mata pun bisa berkedip ratusan kali tiap jam. Andaikan kelopak ini susah berkedip, betapa susahnya hidup saya hari ini.

Dengan semangat yang membara, saya coba merangkai kembali mimpi-mimpi saya. Kantor sekaligus tempat tinggal saya yang baru saya tempeli dengan papan yang berisi target-target proyek yang ingin dikejar dan diselesaikan. Lumayan banyak untuk bulan Mei ini. Tapi, entahlah, sudah pertengahan Mei, baru 1 yang sudah deal dari 10 kemungkinan. Sisanya, masih nyaris deal dan menunggu. Baru 10% dari target yang sudah tercapai.

Dengan baru 10% dari target yang tercapai, saya jadi berpikir lagi apakah bisnis ini layak untuk diteruskan? Saya tahu konveksi baju di negeri ini banyak, bahkan angkanya bisa mencapai jutaan. Proposal ke instansi-instansi, pendekatan via media sosial yang masif, pendekatan personal, dan berbagai cara promosi sudah dilakukan. Tapi rasanya, selama setahun ini, hasilnya belum menggembirakan. Untuk makan sehari-hari, saya rasa cukup. Namun, kebutuhan lain juga perlu. Bahkan, sebagaimana mahasiswa lainnya, pernikahan menjadi hal yang ditunggu-tunggu.

“NIkah muda itu jangan mau enaknya doang”, begitu kata dosen saya, Pak Imam. Iya bener banget sih bapaknya. Jangan mau enaknya doang. Itulah yang menjadi pikiran diri ini selama beberapa hari ini. Setelah dihitung-hitung dengan perhitungan serba kasar dan sederhana, pernikahan yang sederhana, dengan asumsi si cewek tidak minta aneh-aneh untuk mahar dan pesta pernikahannya, minimal butuh 10 juta untuk memulai hidup baru. 6 juta untuk kontrakan kecil selama setahun di Jogja, 4 juta untuk biaya pernikahan sederhana dan mas kawin. Itu ukuran minimal menurut logika manusia yang tidak sempurna ini, karena saya yakin hitung-hitungan Allah lebih indah.

Perputaran uang yang lambat setiap bulan membuat saya bepikir ulang, haruskah diri ini pindah ke lain hati? Haruskah diri ini pindah ke lain hati demi menjemput hati yang menunggu? Saya tahu saya masih dalam tahap start up, begitu sih kata motivator ulung. Namun, sepertinya terobosan-terobosan di atas belum berbuah. Perlu terobosan lagi, ataukah perlu pindah ke lain hati?

Hidup super hemat pun sudah mulai berjalan lagi. Makan nasi sekali sehari menjadi pilihan, huhu, semua  demi kamu. Biaya makan saya selama 3 hari terakhir total hanya sekitar 25-30 ribu. Semua demi penghematan. Namun, apa iya harus seperti ini terus? Saya jujur menikmatinya sih, tapi apa iya  kamu nanti juga menikmatinya nanti? Hahaha. Yakinlah usaha sampai. Perputaran uang yang sangat lambat membuat saya berpikir lagi. Kalau kata Prof Wahyudi, dimana beliau adalah Teknik Kimia itu sendiri, profit yang besar belum tentu menarik. Profitnya 10 juta/hari, tapi kalau itu untuk perusahaan seperti Pertamina, ya bangkrut. Profitnya 1 M, tapi baru cair setelah 10 tahun, lebih gak menarik lagi.

Ini bukan curhat atau keluhan. Ada  1-5 alasan untuk mengeluh hari ini, tapi saya masih punya 1000 alasan untuk bersyukur hari ini. Ini hanya catatan perjalanan hidup yang sedang saya nikmati saat ini. Saya yakin catatan ini akan segera menjadi sejarah bagi saya dan akan membacanya sambil tertawa bersamamu. YAKUSA, Yakin Usaha Sampai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s