Pantang Minta Orang Tua Lagi, Bro

Mungkin prinsip yang kawanku ini pegang. Cerita ini kuawali dari perjumpaanku dengan kawan dekat baruku ini. Sebut saja namanya Udin. Udin ini baru kukenal sekitar 2 bulan lalu karena suatu urusan. Dengan makin bertambahnya komunikasi antara kami berdua, aku sedikit demi sedikit mengetahui kehidupan pribadinya. Aku mengumpulkan informasi ini dari dirinya, teman dekatnya, sampai teman-teman sejurusannya yang kukenal. Ia adalah seorang pejuang sejati.

Udin adalah sosok yang luar biasa menurutku. Untuk ukuran jaman sekarang, dia termasuk yang sangat jarang. Dia lahir di keluarga sederhana di sebuah kota di Jawa Tengah ini. Dia masuk kuliah d UGM Yogyakarta dengan mendapat beasiswa BIDIK MISI. Beasiswa itu tentu sangat membantu dirinya dimana kondisi orang tuanya yang merupakan pensiunan guru di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Dia sama denganku, angkatan 2011. Artinya, sudah agak molor masa studinya (kalau Teknik, aplagi nyambi bisnis, afdholnya 5 tahun sih, hahaha..)

wave-goodbye-to-the-worries-of-earning-extra-money-online

Sosoknya yang luar biasa dimulai dari kehidupannya pasca semester 8. Beasiswa BIDIK MISI nya otomatis distop karena beasiswa BIDIK MISI hanya berlaku untuk  semester saja. Jika lebih adari 8 semester, maka ia harus bayar sendiri. Udin termasuk yang agak molor kuliahnya. Maka, ia pun bekerja di sebuah bisnis start up teman saya sebagai pegawai. Udin saking gak mau merepotkan kedua orang tuanya, rela bekerja lebih keras demi menghidupi dirinya sendiri. Demi uang kuliah, ia rela bekerja. Yang aku tahu, dia bekerja sangat keras. Bahkan, tengah malam pun masih kerja kadang-kadang.

Hal lain yang membuatku salut adalah ia rela tidur di kantor bisnis temanku demi menghemat biaya hidup. Dari sini, mungkin ceritanya agak berbeda. Udin berhutang uang cukup banyak kepada investor bisnis tempat ia bekerja untuk membeli motor demi kelancaran transportasinya ke kampus dan kantor. Aku tidak bias membayangkan berapa bulan gaji yang harus ia korbankan untuk membayar cicilan utang itu. Aku tahu dia bekerja sangat keras karena hamper setiap hari aku main ke kantornya tempat ia bekerja.

Perjuangannya bukan cuma itu. Ia juga memiliki keluarga yang perlu dibantu di kampong halamannya. Dari teman dekatnya aku tahu, ia harus mampu membagi gajinya untuk membayar cicilan motor, biaya hidupnya, dan untuk keluarganya. Ia benar-benar ingin mandiri secara finansial. Tak sampai di situ, ia juga masih punya tanggungan skripsi di jurusannya. Kerja, orang tua dan kampus, tiga dimensi kehidupan yang masih ia perjuangkan sekarang.

mortar-board_zps62a1c49e

Kadang aku berpikir bagaimana caranya mengatur gajinya untuk ketiga hal di atas? Sedikit demi sedikit, aku tahu lah gajinya berapa di kantor itu. Karena masih start up, gajinya masih sedikit di bawah UMR. Tapi, untuk ukuran jomblo, lumayan sih. Namun, tetap saja ia harus membagi penghasilannya untuk ketiga hal di atas. Kadang, aku ingin membantunya melunasi hutang-hutangnya. Apalagi sekarang aku tahu, kondisi tempat ia bekerja sedang kurang bagus. Aku takut kalau gajinya terlambat atau terpotong. Serba rempong di bayanganku.

Ketika banyak teman-temanku disana hidup serba kecukupan, lulus tepat waktu, bekerja dengan gaji lumayan, dan lain-lain, ternyata masih ada temanku yang harus berjuang seperti itu. Ia bekerja keras demi dirinya sendiri. Ia bekerja untuk menghindari meminta-minta kepada orang tua dan keluarganya. Kadang-kadang, seperti sore kemarin ketika kutanya sudah makan belum malam ini, dia bilang belum. Katanya ia hanya makan nasi sekali sehari demi hemat. Ah, hati mana yang tidak trenyuh mendengar perkataan seperti itu. Ketika kita bisa enak berpikir nanti makan apa, sementara si Udin berpikirnya bisa makan gak ya nanti. Bahkan, pernah suatu hari Udin gka makan nasi sama sekali. Hanya roti-roti 1000 an dan air putih  selama sehari. Benar-benar perjuangan kawan.

Ketika kamu sudah punya penghasilan lumayan dari perusahaan-perusahaan besar atau dari bisnismu, teman kita masih ada yang harus terpaksa makan nasi sehari sekali sampai ngutang untuk beli motor demi kehidupannya. Kalo dipikir-pikir, sebelum utangnya lunas, Udin pasti belum boleh pindah sama atasannya. Hidupmu penuh perjuangan, Udin. Sebagai kawan baikmu, aku hanya bias mendoakanmu. Kalau ada rezeki lebih, insya Allah akan kubantu melunasi hutangmu itu.

Ampuni hambaMu ini yang sedikit sekali bersyukur. Entah harus malu atau tidak, ketika hambaMu ini terus lupa untuk bersyukur padaMu, Engkau masih terus saja memberi nikmat pada diri ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s