Bercocok Tanam di Lahan Emas

Bercocok tanam merupakan kegiatan atau bahkan mata pencaharian utama rakyat Indonesia. Kekuatan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh kegiatan produksi di sektor pertanian, terutama pertanian dengan produk beras. Bercocok tanam menjadi salah satu wariasn budaya di Indonesia. Bahkan, lahan miring pun bisa menjadi sawah untuk menanam padi seperti di yang banyak dijumpai di daerah pegunungan.

sawah-terasering-ubud1Terasering alias Sengkedan

Namun, sebagaimana kita tahu, semakin banyak manusia yang hidup di Indonesia, maka kebutuhan akan rumah alias tempat tinggal menjadi sangat penting. Apalagi, kultur Indonesia yang memiliki sistem kampung, alias tinggal di lahan horizontal bersama dengan orang lain. Berbeda dengan negara seperti Singapura, yang kebanyakan tinggal di lahan vertikal alias apartemen karena keterbatasan lahan di sana. Semakin banyak orang, semakin banyak rumah, semakin banyak tanah yang digunakan. Tanah yang digunakan untuk dijadikan tempat tinggal salah satunya adalah lahan produktif alias sawah. Alhasil, tidak heran kalau semakin banyak sawah yang terpojok. Nggak ada lagi istilah rumah mepet sawah, sekarang malah banyak sawah mepet rumah.

big886753Sawah Mepet Rumah

Seperti di Pogung, Jogja, daerah kos mahasiswa dekat UGM., masih ditemukan satu dua petak sawah yang sudah diapit oleh kos-kosan mahasiswa. Kondisinya mirip dengn foto di atas, bahkan mungkin lebih ekstrim (maaf gak sempat foto, hehehe). Petani pemilik sawah itu sepertinya bersikeras tidak ingin menjual sawahnya walau di kanan kirinya sudah menjadi kos-kosan. Dengan luas sekitar 100 meter persegi, para petani itu tetap bertahan dalam menanam padi. Bukan bermaksud apa-apa. Namun, dengan kondisi realita yang ada, dengan harga tanah di Pogung sekitar Rp 3-4 juta/m2, artinya dengan lahan 100 m2, mungkin bakal dapat 300-400 juta, para petani tersebut masih bertahan menggarap sawahnya. Dengan kapasitas rata-rata produksi padi 50-60 kuintal/hektar, dengan lahan 100 m2, sekali panen didapat hanya 0,5-0,6 kuintal sekali panen, alias hanya 50-60 kg. Dengan harga pembelian pemerintah baru-baru ini Rp 7.300 per kg, maka sekali panen petani mandapat sekitar Rp 365.000 !! Kalau mau ditambah gabah, juga bisa sih, wkwk. Tapi tak signifikan perubahannya. Jika lahannya mencapai 1 hektar alias 10.000 m2, mungkin akan terlihat menarik angkanya bagi para petani.

Maaf jika hitungan ini banyak salahnya, sungguh ini hanya pemikiran sekelebat dengan teman-teman saat melewati area persawahan di Pogung, hehee. Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua.

Is it worth for them? Mari kita renungkan. Semoga ada langkah dari pemerintah selanjutnya untuk menolong para petani ini. Semoga Allah menjaga para petani kita selalu.

Hidup Pak Tani Pogung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s