Kadung Betah di Jogja

Saya termasuk beruntung bisa kuliah di Jogja, tepatnya di UGM. Lebih spesifik jurusan alias departemen Teknik Kimia, salah satu departemen paling favorit di UGM, tapi juga termasuk yang paling sulit untuk keluar darinya. Hohoho. Jangan salah, Teknik Kimia itu sesuatu yang layak diperjuangkan, begitu kata Pak Ketua Jurusan.

Kuliah di Jogja ini benar-benar membawa berkah dan banyak keuntungannya buat saya pribadi. Well, kita coba kembali ke memori lama saya beberapa tahun lalu saat menggebu-gebu ingin masuk ITB. Karena biaya kuliah kelewat mahal dan jaraknya jauh, bapak ibu keberatan rasanya kalau saya masuk ITB. Yah, saya nurut aja sih karena memang kondisi keuangan orang tua memang belum bisa membiayai untuk kuliah di ITB. Lalu, singkatnya saya keterima di UGM. Senang banget, UGM coy. Di kompleks saya tinggal, saya adalah orang kedua yang masuk UGM (ciee..). Nggak, bukan apa-apa. Paling nggak, saya bisa merantau, tapi gak jauh-jauh juga dari Malang.

Hidup pun berlanjut di Jogja. Dan saya baru sadar, saya menemukan jiwa saya di Jogja. Dengan segala keunikannya, entah saya begitu nyaman di Jogja. Mulai orangnya yang ramah-ramah, makanan murah, lalu lintas tertib walaupun macet, biaya SPP kuliah juga termasuk murah banget (cuma 500 ribu per semester untuk kampus sekaliber UGM lho, tapi khusus angkatan 2012 ke atas ya..), sampai keberagaman berbagai suku-suku di Indonesia yang begitu banyak di Jogja ini. Dan saya menemukan hati saya di warung angkringan, dimanapun angkringan itu.

angkring1

Angkringan adalah penolong bagi para perantau yang kehabisan duit. Dengan modal 1500 saja, masih bisa makan nasi, pake tempe lagi. Minum air putih aja, gratis tis. Angkringan menjadi penolong ketika duit di kantong tinggal 2000 dan uang bulanan belum ditransfer orang tua di kampung. Hohoho. Gorengan dengan berbagai variannya seharga 500 perak semakin mewarnai asyiknya angkringan. Minuman seperti teh, jeruk, jahe, hingga susu dijual mulai harga 1500. Bahkan, dulu ada lho es teh 1000 perak ! Wah, bener-bener edan angkringan ini. Angkringan ini cocok banget buat mahasiswa, makan murah, tapi kenyang. Kenyang sih tergantung perut masing-masing, tapi saya kenyang kok.

Sudah hampir 5 tahun hidup di Jogja. Dengan kesibukan mahasiswa tingkat akhir, rasanya bayangan wisuda sudah di depan mata. Angkringan-angkringan makin banyak berkembang. Bahkan, sekarang angringan banyak yang berupa restoran, bukan gerobakan lagi. Bayangan lulus dan punya duit sendiri sudah terbayang. Dari situlah, saya menemukan hati saya di kota ini.

tugu-yogyakarta

Hati saya merasa tenang sekali hidup di Jogja ini. Ini bukan sepik atau gombal, ini beneran,. Saya juga pernah berkunjung ke Bandung dan Jakarta, nyambangi teman-teman lama saya. Saya nggak nemu ketenangan batin di 2 kota besar itu seperti di Jogja. Misal di Bandung. Biaya hidup lebih mahal. Dulu saya sempet kaget makan pakai nasi, sayur dan tempe 1 buah, kena 8000. Mahal banget euy. Gituan di Jogja cuma 4000, bahkan 3500. Dan cerita dari teman-teman di Bandung kurang lebih sama. Terus di Jakarta. Macetnya gak ketulungan. Udah kebanyakan orang tuh Jakarta. Trotoar jadi jalan, macet sampai 3 jam, motor bejibun banget, dan lain-lain. Luar biasa banyak orangnya. Jogja banyak sih orangnya, tapi entah kenapa lebih nyaman aja, terutama saat di jalan.

Well, karena saya sudah nyaman di Jogja, seperti kata orang-orang yang pernah tinggal di Jogja, misal “Seluruh sudut kot Jogja itu romantis”, “Jogja itu terbuat dari angkringan, rindu, dan pulang”, dan lain-lain. Rasanya tidak salah memang kota ini begitu istimewa. Saya yang mulai bisnis disini merasa sangat nyaman bisa memulai bisnis disini. Dan restu orang tua pun sudah turun untuk bisa tinggal di Jogja lebih lama. Bukan buat kuliah, terusin aja kuliahnya haha. Lulus woy Agustus. Maksudnya, kalau mau bisnis, kata bapak di Jogja aja. Kalau mau menempuh hidup baru, katanya juga di Jogja aja. Ya udah, Jogja Jogja.

ddd303066fc3c3641c885e418b512822

Selamat diri saya menjadi warga Jogja. Kotanya pas di tengah-tengah Pulau Jawa. Mau ke Jakarta juga gak kejauhan, mau ke Banyuwangi pun juga gak kejauhan. Pas, se-pas hatiku padamu. Ngomong-ngomong soal wisuda, saya beberapa hari ini mimpi ada pendamping wisuda nanti. Pendamping beneran kalau ini, halalan thoyyiban. Itu kamu

 

13-3-2016
Warga Baru Jogja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s