Happy Wedding, Ajat-Eprina !!

Dalam kunjungan saya kemarin ke resepsi pernikahan teman saya, Ajat Santoso (Fakultas Peternakan UGM 2011) dan Mbak Eprina (PMS UNY 2011), saya mendapat banyak ilmu dalam tausyah pernikahan yang dibawakan oleh Ustad Didik Purwodarsono. Btw, Ustad Didik adalah salah satu ustad favorit saya karena beliau sering mengisi kajian di masjid-masjid sekitar UGM. Pembawaannya yang khas, lugas, tegas, humoris, dan satu yang menjadi trade mark beliau, puitis nan romantis. Apapun tema pengajiannya, selalu dibawakan dengan nuansa puitis dan romantis.

ajat

Selamat, Ajat dan Eprina. Semoga Langgeng…

Ah langsung saja ya. Begini. Banyak sekali ilmu yang beliau sampaikan kemarin. Namun, yang paling kusuka adalah ketika beliau membawakan materi berupa perbandingan laki-laki dan perempuan dalam menghadapi sebuah masalah. Lelaki itu cenderung rasional, tapi perempuan lebih cenderung perasa. Lelaki lebih mengutamakan berpikir rasional, perempuan lebih berpikir sesuai perasaannya.

Kombinasi inilah yang memang Allah takdirkan agar laki-laki dan perempuan bersatu bekerja sama dalam menghadapi masalah di dunia ini. Tak ada lelaki yang hidup tanpa lelaki, begitu pun sebaliknya. Ngomong-ngomong soal rasional dan perasaan ala Ustad Didik, saya ada beberapa contoh masalah dan beberapa respon dari lelaki dan perempuan dalam menghadapi masalah, sesuai dengan pemaparan Ustad Didik dan kehidupan sehari-hari, yang membuat kami tertawa dan menyadari memang laki-laki dan perempuan itu berbeda

Masalah : Ada ular masuk ke dalam rumah

Lelaki : cenderung berpikir bagaimana caranya mengeluarkan ular itu dari rumah, entah dibunuh, dipukul, atau apapun. Bahkan, kalau perlu panggil orang yang berani dengan ular kalau tidak berani berhadapan dengan ular. Kalau perlu, cari pentungan, ranting, batu, ataupun yang keras untuk mengusir sampai membunuh ulat.

Perempuan : cenderung berpikir gimana rasanya ada di dekat ular. Karena kodratnya perempuan itu ngomong lebih banyak daripada lelaki, biasanya perempuan langsung ngoceh-ngoceh sambil teriak sampai bikin bingung si lelaki. “Aduh, Mas itu ada ular di dapur. Gimana ya. Aku takut banget. Jangan dekat-dekat Mas entar bis digigit lho..(sambil narik-narik baju si lelaki biar tidak mendekat, kebawa perasaan takut, padahal si lelaki lagi bingung nyari pentungan, malah dibikin panik)”.

1621929_612256505515897_120779431_n

Analogi Ust Didik ini sukses membuat kami tertawa, sekaligus sadar, sekaligus sedih, kapan gue bakal ngalamin kayak gini (sambil gigit jari..). Ajat secara resmi kemarin bakal bisa merasakan hal itu mulai kemarin. Ajat dan Eprina akan menghadapi hal-hal semacam di atas mulai kemarin. Tak lupa, Ust Didik mengompor-ngompori para jomblo dan jomblowati yang hadir di resepsi Ajat-Eprina. Mulai dari MC sampai orang yang baru datang kena semua. “Anak saya itu umur 21-22 udah saya nikahkan langsung lho. Kamu kapan Mas?”, tanya beliau menunjuk sang MC acara, disertai tawa para peserta.

Tak lupa, Ust Didik juga mengompori Eprina tentang keluarga macam apa yang ingin dibangun bersama Ajat. Ust Didik menyampaikan 4 model keluarga seperti tertera dalam Quran, yakni keluarga Nabi Ibrahim alaihissalam, dimana beliau dan istirnya sama-sama ingin masuk surga. Yang kedua, keluarga Nabi Luth alaihissalam dan Nuh alaihissalam, dimana sang suami ingin masuk surga, tapi sang istri malah ingin masuk neraka. Yang ketika, keluarga Fir’aun, dimana sang suami ingin masuk neraka, sang istri, Asiyah, ingin masuk surga. Yang keempat, keluarga Abu Lahab, dimana suami-istri sama-sama masuk ke neraka. Mendengar ini, dengan mantap Eprina menjawab

“Keluarga Nabi Ibrahim, Tad”, ucapnya lirih, tapi mantap. “Aamiin, kita doakan sama-sama ya”, pungkas Ust Didik. “Bener ya pengen kayak keluarga Nabi Ibrahim?”, beliau coba meyakinkan. Eprina hanya mengangguk mantap. “Nabi Ibrahim istrinya berapa, Mbak Eprina?”, tanya beliau. Tanpa dikomando, meledaklah tawa para undangan resepsi, sekaligus membut Ajat dan Eprina tersipu malu.

Begitulah Ust Didik, selalu puitis dan romantis, tapi tetap berisi kajiannya. Semangat mengakhiri kejombloan tiada akhir ini.
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khoir, Ajat-Eprina …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s