Selagi di Singapura Nanti

Menyebut namamu

Sungguh aku sudah menyebut namamu di dalam sholatku, doaku, entah sudah berapa kali. Aku sebut namamu dengan nama lengkapmu, terkadang dengan nama panggilanmu. Entah sudah berapa malam, hari, bulan, tahun, aku menyebut namamu. Bahkan, saking seringnya, rasanya lidah ini sudah otomatis menyebut namamu, apalagi di setiap waktu mustajab.

Menyebut namamu

Tapi, rasanya, kelihatannya dirimu semakin jauh. Semakin tak terjangkau. Apalah diriku ini. Menyebut dirinya pengusaha muda sukses, nyatanya keuanganku hanya cukup membiayai kebutuhan sehari-hariku. Proyek-proyek banyak yang mandeg di tengah jalan. Sementara dirimu, mungkin sudah berpenghasilan. Bahkan mungkin, kamu kini sedang dikelilingi oleh lelaki yang berpenghasilan jauh di atasku.

Menyebut namamu

Seperti punuk merindukan bulan. Semakin aku berusaha mengerjakan proyek-proyekku, entah kenapa mulai banyak yang berhenti. Penghasilanku macet, tak bertambah dalam beberapa bulan ini. Namun, lidah ini masih berani sekali menyebut namamu. Maaf jika aku ini keterlaluan. Sudah jadi kebiasaan bagiku menyebut namamu, tapi apa daya. Kamu disana, mungkin sudah berpenghasilan disini, dikelilingi bahkan sudah diprospeki lelaki yang mungkin sudah lebih mapan, sementara aku disini, masih mengais-ngais rezeki dari proyek yang entah belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Menyebut namamu

Doa harus selalu dibarengi usaha bukan? Ya, tak cukup mendoakanmu. Aku disini juga sudah berusaha, pontang-panting disini, bahkan entah, untuk pergi ke Singapura pekan depan, aku tak tahu harus membawa uang jajan berapa dollar Singapura untuk beli jajan sekaligus sedikit oleh-oleh. Entah kenapa, dunia ini kurasa makin sulit buatku. Beruntung memang, aku masih diberi kesempatan mewakili kampus ke luar negeri. Tapi, yang kupikirkan adalah kamu, bagaimana setelah pulang dari sana? Melamarmu? Keterlaluan rasanya

Menyebut namamu

Mungkin harus kulakukan ratusan kali lagi. Mengetuk pintu langit. Ditambah dengan maksiatku yang tak kunjung reda, ibadahku yang makin malas-malasan, proyek yang tak kunjung menunjukkan hasil, kamu yang mungkin sudah punya penghasilan sendiri, kamu yang punya teman-teman lelaki yang mungkin sudah lebih mapan, kamu yang jauh sekali disana, kamu yang begitu sempurna di mata setiap lelaki, kamu yang, ah entah, rasanya memang kita jauh sekali ya

Sekali lagi

Aku tak pernah sekali pun menyesal menyebut namamu berkali-kali. Melihat-lihat foto-fotomu dengan teman-teman barumu. Ah, rasanya kamu terlihat bahagia dengan teman-temanmu. Kulihat kamu juga sering makan-makan dengan temanmu di restoran yang kelihatannya lumayan merogoh kantongku. Apalah diriku ini, uang makanku hanya 20 ribu sehari, mungkin sama dengan harga sepiring makanan yang kamu pesan ketika dinneer ria dengan teman-teman barumu itu. Jauh ya

 

Putus asa?

Tidak. Aku tidak putus asa. Aku mulai berpikir realistis, berpikir eksak layaknya seorang lelaki yang sedang berjuang mewujudkan impian-impiannya yang mulai terlihat tak semudah yang dijargonkan para motivator nasional. Putus asa dan berpikir realistis memang beda tipis. Ketika teman-temanku sudah memiliki penghasilan tetap dan lumayan mapan sebagai fresh graduate, aku hanyalah seorang yang ingin mencuri-curi proyek kecil-kecilan untuk menyambung hidup. Proyek besar? Ah, aku selalu hampir kalah. Hanya 1 kali aku menang proyek besar.

Kamu tahu..

Sudah berkali-kali aku merepotkan orang tuaku sejak kecil. Walau aku sudah tidak pernah minta transferan orang tuaku lagi sejak 1 tahun terakhir, kecuali untuk biaya kuliah, aku selalu berpikir membesarkan unit bisnis yang kubangun ini. Entah kenapa, bisnis menjadi salah satu passionku. Entah kenapa, aku selalu berpikir lebih baik menjadi kepala kecil daripada ekor besar. Karena sebesar apapun ekor, ia akan selalu menuruti keinginan kepala. Dan sekecil apapun kepala, ialah masterpiece seluruh anggota tubuhnya, termasuk ekor.

Namun…

Aku tak tahu bagaimana kelanjutan kisah ini. Tapi sepertinya aku masih tetap mengetuk pintu langit dengan membawa namamu, sambil kuberi akhiran “Jika memang ada yang lebih baik, maka tunjukkan Ya Allah, Yaa ‘Alimul Hakim”. Terlalu sombong kalau aku memaksa Allah. Allah selalu punya rencana yang lebih baik.

Sepulang dari Singapura menyelesaikan tugas dari kampus, akan kukabari dirimu. Tenang saja, selagi aku di Singapura nanti, aku tetap mengetuk pintu langit dengan namamu.

H-7 from AYLA Singapore Event

Hati yang merindukamu, Jogja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s