Ujian Bernama IMB

IMB alias Izin Mendirikan Bangunan menjadi topik utama dalam otak saya beberapa hari ini. Bersama rekan baik saya, Yusuf, yang sama-sama ingin mendirikan perusahaan sendiri, kamu membutuhkan akta perusahaan untuk dapat dapat proyek yang lebih besar. Namun, akta perusahaan bisa dibuat dengan beberapa syarat, salah satunya IMB itu. Selain IMB, ada beberapa syarat lagi. Tapi, itu yang paling sulit didapat.

hope-in-focus-1

Kebetulan saya dan Yusuf sudah dapat kontrakan di Pogung Lor, tak jauh dari UGM. Sebelum ngontrak disitu, kata sang pemilik rumah, rumah itu ada IMB nya. Yusuf yang pada waktu itu menjadi perantara mengiyakan saja dan membuat semuanya cepat, sehingga deal pun terjadi. Setelah beberapa hari, barulah ketahuan kalau tidak IMB nya rumah itu. Wah, kami pusing tujuh keliling. Kami baru start up bisnis begini, ternyata ujian bernama IMB ini mulai menyita waktu kami.

Betapa tidak? Wew, ternyata se Pogung Lor ini gak ada yang punya IMB, alias cuma surat tanah doang. Kalau untuk mengurus surat perusahaan, surat tanah belum cukup. IMB menjadi syarat yang paling sulit didapat. Selain faktor budaya lokal, bikin IMB itu ribet dan mahal. Harus ngukur dulu, bikin sketsa gambarnya, bikin denah lokasi, dan tentu, bayarnya gak murah. Ealah, ribet juga ternyata kan. Pusing lah kami ini.

yusuf-_-_-_-_

IMB ternyata tidak selalu dimiliki setiap bangunan. Bahkan, gedung fakultas saya kuliah pun konon tidak ada IMB nya. Lha gimana ada IMB, lha wong semua tanah UGM ini pemberian Sultan Hamengkubuwono, mana ada IMB? Hehe. Apalagi Pogung yang notabene kampung yang baru muncul begitu UGM didirikan karena begitu banyak mahasiswa yang tinggal di sekitarnya. Lalu, bagaimana dengan IMB rumah-rumah di Pogung? Saya jadi makin ragu.

Demi berlanjutnya kegiatan bisnis, mau tak mau kami harus memutar otak untuk mencari bangunan yang ada iMB nya. Sekadar nitip nama alamat doang, tapi kegiatan bisnis tetap di kontrakan kami. Ini dia yang pusing. Gak setiap orang, apalagi yang belum begitu kenal, dimintai rumah/bangunannya jadi alamat perusahaan kita. Sungkan juga sebenarnya. Saya kemarin aja udah “nembakin” 2 teman saya, tapi semua gagal. Alasannya sama sih, gak mau ribet misal ada urusan dengan pajak dan lain-lain. Iya juga sih, mana ada yang repot sama begituan, apalagi demi orang lain. Yusuf juga sudah mencarikan rumah-rumah temannya yang di sekitar UGM, tapi itu tentu gak gampang. Butuh pendekatan khusus dan kita mampu meyakinkan kalau rumah/bangunan itu tidak akan terkena masalah apa-apa.

Hingga hari ini, kesabaran kami masih diuji. Bisnis kami ini masih skala kecil, maka untuk masuk skala besar, mau tak mau harus punya akta perusahaan biar bisa iku tender-tender. Alternatif kedua, kontrakan kami harus pindah ke daerah Jogja atau Bantul, dimana IMB tidak menjadi syarat untuk bikin akta. Cukup bikin surat kesanggupan bikin IMB, dan berlaku 5 tahun, selesai. Tapi mencari kontrakan di Jogja/Bantul juga tak mudah. Maka dari itu, kami hanya bisa bersabar, sambil berdoa semoga ini segera selesai dan kami bisa fokus membesarkan bisnis kami.

aa-happy-people-2

Saya yakin sekali akan ada jalan keluar. Istilahnya, kami ini sudah setengah jalan membangun perusahaan. Dari usaha kecil, sekarang kami naik level ke level yang lebih tinggi. Anggap saja IMB ini menjadi ujian bagi kami. Semoga cepat kelar ya IMB ini. Semoga mendapat yang terbaik, entah itu di Sleman atau Jogja. Bantul kejauhan dair UGM, lumayan repot nanti. Kan kita masih mahasiswa tingkat akhir…

Pogung Baru A2 No 2, Sleman, Yogyakarta..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s