Lika Liku Bisnis, Fiiuhh…

Bisnis konveksi baju yang saya jalani secara ototdidak mulai tahun 2013 akhir, atau yang mulai serius sejak 2015, mendapat beberapa ujian. Ujian yang tidak mudah tentunya. Ujian yang menguji kekuatan dan kesabaran saya untuk mengembangkan bisnis itu. Cuma satu kata untuk menggambarkannya, fiuhhh…

office-lighting-166

Siapa bilang memulai bisnis konveksi baju itu mudah? Tidak segampang yang dibayangkan. Apalagi kalau belum lama memulai, pasti ada beberapa halangan yang menghalangi. Ketika memulai, saya tentu bekerjasama dengan para penjahit yang sudah berpengalaman, karena saya sendiri gak bisa jahit baju. Pernah sih sekali jahit celana, hasilnya lumayan. Lumayan ancur

Jadi, saya pengen cerita yang fase serius aja. Fase sebelum fase serius dilupain aja, karena kamu emang pengennya diseriusin kan ? (loh, salah fokus…). Dulu pas masuk fase serius, saya resign (ciee resign) dari unit bisnis yang sebelumnya saya bikin bareng teman saya. Intinya, saya pengen mengatur semuanya sendiri. Tujuannya apa? Ya biar profitnya gak dibagi 2, bisa diambil sendiri. Biar bisa nabung buat kamu juga loh..

Ketika itu adalah fase terberat di dalam hidup saya, di tahun 2014 akhir saat memutuskan untuk berpisah dengan teman saya. Pisahnya baik-baik dong tentunya. Lalu, saat itu, saya berpikir harus memulai brand saya sendiri. Juga memulai untuk membentuk pasar sendiri, yang tentu itu membutuhkan banyak waktu. Setelah membuka pesana via online, rasanya harus segera membuka stand/kios di dunia nyata. Dipilihlah kios kecil di Jalan Kaliurang km 9. Jauh juga dari kampus, apalagi pas jaman skripsi itu

Karena pindahan kantor bareng sama ambil skripsi, saya jadi jarang ke kantor karena udha ada orang yang jaga juga. Saat itu, saya bolehlah bangga dikit karena bisa ngasih gaji orang lain. Alhamdulillah, saya masih 21 tahun waktu mulai ngasih gaji orang. Karena skripsi lumayan susah, pegawai saya jadi sering sendirian di kantor. Jadi pergi sendiri, pulang sendiri. Kayak jomblo ngenes udahan. Hingga suatu saat, beliau mundur dari jabatan yang saya berikan. Wah, saya kaget banget itu denga kabar itu. Terus siapa yang gantiin saya kalo gini di kantor? Jaman skripsi bikin bingung broo

mortar-board_zps62a1c49e

Akhirnya saya sempet-sempetin untuk ke kantor tiap hari. Tapi, tetep aja gegara skripsi, gak bisa tiap hari ke kantor. Hal ini lumayan mengganggu saya. Walau tetep bisa mengatur jadwal bikin skripsi, tetap aja pikiran terbelah 2 ke bisnis juga. Denga jarak kantor dan kampus lumayan jauh, kadang saya jadi malas ke kantor. File skripsi masih numpuk, gak mungkin dibawa ke kantor. Tapi, hal itu berubah ketika saya selesai sidang skripsi pada Oktober 2015. Saya jadi lebih leluasa ke kantor, walau juga kadang harus tabrakan saa kuliah.

Namun, karena tempat yang cukup jauh dari kampus dan pesanan masih stagnan, saya memutuskan cari kontrakan baru untuk mengembangkan. Hingga nemu lah rumah kontrakan murah di Pogung Lor. Dari sini, saya benar-benar mulai serius sampai mau bikin surat perusahaan. Tapi, birokrasi di KPP Sleman terkenal lama, dan wajib punya IMB. Padahal kontrakan saya gak ada IMB.

yusuf-_-_-_-_

Gak ada IMB membuat teman saya yang juga ikut ngontrak, kebetulan punya bisinis susu Go Milk, agak bingung. Padahal syarat IMB adalah hal wajib di Sleman. Dia kebingungan saat diberitahu ternyata yang ada cuma surat tanah doang. Belum bayar kontrakan pula.Hingga saat ini, masalah IMB rumah untuk surat perusahaan masih terkendala. Doakan kami ya guys.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s